Beranda blog

Kesalehan Sosial Muhammadiyah untuk Bangsa

0
Penulis : Hadi Prasetyo (Mahasiswa Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Malang)

Muhammadiyah memaknai dakwah bukan hanya dakwah bil lisan, tetapi juga dakwah bil hal. Dakwah bil hal secara sederhana dimaknai dakwah yang secara langsung menyentuh dan menyelesaikan problem kehidupan. Maka ketika ada problem kehidupan manusia, Muhammadiyah sebagai gerakan Islam juga terpanggil untuk melaksanakan kegiatan dakwah bil hal melalui bidang kemanusiaan itu.

Dan kita tahu bahwa dakwah bil hal ini dampaknya kadang lebih jelas, lebih besar pengaruhnya dibandingkan dakwah bil lisan. Maka di situlah kemudian Muhammadiyah sebagai organisasi dakwah Islam mengambil peran, karena tidak mungkin problem-problem kehidupan hanya diselesaikan dengan dakwah bil lisan.

Kehadiran Islam yang seperti itu telah ditegaskan dalam Al-Qur’an QS. Al Anbiya ayat 107, Wama arsainaka Illa rah matan lil alamin. Karenanya, kepada seluruh penghuni alam ini harus merasakan kasih sayang Allah tanpa memandang latar belakang agama, ras, suku dan golongan. Muhammadiyah hadir untuk melakukan dakwah bil hal melalui kemanusiaan kepada siapa pun yang membutuhkan rahmatan lil alamim. Itulah yang harusnya dilakukan sebagai inti dakwah.

Diawal gerakan kemanusiaan, Muhammadiyah sebagai perwujudan dari yang diajarkan Kyai Haji Ahmad Dahlan pada murid-muridnya memulai dengan tiga hal. Pertama, untuk menghadapi keterbelakangan ekonomi dengan pemberian santunan makanan dan santunan kepada dhuafa yang orang dulu sering menyebut gerakan feeding (pelayanan sosial). Kemudian yang kedua, bahwa pada waktu itu juga terjadi problem keterbelakangan pendidikan, maka Muhammadiyah hadir dengan gerakan pendidikan yang orang mengenal dengan gerakan schooling (pendidikan).

Lalu yang ketiga, pada saat awal dulu kesehatan itu juga terbatas bagi masyarakat pribumi karena masih terjajah, maka Muhammadiyah hadir juga dalam gerakan yang kita sebut gerakan healing (pelayanan kesehatan).
Tetapi tidak hanya itu, kalau kita melihat di tahun 1919 sudah memimpin laskar kebencanaan untuk ikut menangani bencana kemanusiaan yang terjadi saat gunung api Kelud meletus. Relawan kebencanaan Muhammadiyah itu sering dikenal dengan sebutan “Laskar Kyai Syujak”. Jadi kalau dilihat dari situ, prinsipnya seluruh yang membutuhkan pertolongan dakwah Islam, maka Muhammadiyah tentunya ikut hadir.

Sekarang kemudian berkembang yang dulu hanya mengurusi sosial dan sekaligus mengurusi kesehatan, serta kemudian sekarang berkembang menjadi beberapa majelis dan lembaga. Ada MPS yang mengurusi sosial, kemudian yang mengurusi kebencanaan ada MDMC, yang mengurusi kesehatan MPKU. Yang mengenangani pemberdayaan kaum miskin petani dan nelayan dan yang lain, termasuk kaum difabel ada sendiri. MPM ini juga masih dilengkapi dengan gerakan fun racing dalam rangka menguatkan gerakan sosial itu yang dilakukan LazisMu.

Dimasa Pandemi virus corona atau Covid-19 yang melanda banyak negara termasuk Indonesia menjadi keprihatinan semua pihak. Berbagai upaya dilakukan guna menanggulangi penyebaran virus tersebut, tak hanya oleh Pemerintah, melainkan juga segenap elemen masyarakat. Tak ketinggalan, Muhammadiyah mengerahkan elemen-elemen yang mereka miliki demi membantu pencegahan penyebaran Coronavirus Disease 2019 (Covid-19).

Sejak 5 Maret 2020, langsung dibentuk Muhammadiyah Covid-19 Command Center (MCCC), jumlah RSM/RSA yang ditunjuk melakukan penanganan pasien Covid-19 terus bertambah. Diawali 15 rumah sakit, ditambah menjadi 20 dan 35, kini sudah ada 64 RSM/RSA yang diamanatkan menangani pasien-pasien Covid-19. Yang menarik di Muhammadiyah itu, bahwa seluruh perjuangan selalu ditanamkan semangat keikhlasan. Dengan seluruh gerakan itu dilandasi keikhlasan, maka muncul pertolongan dari Allah. Sehingga karena keikhlasan itu para pejuang begitu tahan terhadap tantangan, karena yakin bahwa orang Ikhlas itu harus sabar. Orang Islam harus tangguh, karena keikhlasannya itu, hasil kerjanya jadi luar biasa. Karena kerja yang luar biasa itu kemudian mendapatkan apresiasi bahkan penghargaan dari berbagai pihak.

Tetapi sekali lagi orang Muhammadiyah melakukan itu tidak untuk penghargaan, melakukannya tidak dalam rangka mendapatkan apresiasi, yang utama itu adalah kepercayaan untuk terus berkipran di Persyarikatan Muhammadiyah. Dengan terus berkiprah di Persyarikatan Muhammadiyah, akan mendapatkan hati dan penghargaan bukan dalam bentuk materi atau yang lain. Orang-orang seperti itu namanya akan terus dikenang. Kita kenal bahwa sekarang ini bagaimana orang orang hebat itu senantiasa disebut-sebut dalam kajian bahkan namanya dipakai untuk nama masjid, nama kampus, nama gedung, nama pusat-pusat kegiatan Persyarikatan Muhammadiyah.

Itu adalah bagian dari upaya penghargaan terhadap para pejuang sosial itu. Nah! Ketika Muhammadiyah sekarang sudah berkembang semakin kuat, Alhamdulillah Muhammadiyah kemudian menghormati keluarga dan anak turun para pejuang itu. Dan ini menjadi kewajiban kita para penerus dan pengurus Muhammadiyah untuk menghargai dan menghormati para pejuang-pejuang sosial itu. Jangan sampai beliau-beliau yang karyanya sudah luar biasa, namun kemudian keluarga dan anak turunnya menjadi terlantar.

KH. Ahmad Dahlan mengajarkan kepada murid-muridnya pada dekade awal abad ke-20 tentang pemahaman Surat al-Maun, yang inti surat ini mengajarkan bahwa ibadah ritual tidak ada artinya jika pelakunya tidak melakukan amal sosial. Surat ini bahkan menyebut mereka yang mengabaikan anak yatim dan tak berusaha mengentaskan masyarakat dari kemiskinan sebagai pendusta agama.

Spirit inilah yang ditangkap oleh Kyai Dahlan dan diimplementasikannya dalam kehidupan sosial melalui persyarikatan Muhammadiyah. Nilai-nilai ini sejalan dengan misi Islam di muka bumi sebagai agama yang rahmatan lilalamiin. (*)

Penulis : Hadi Prasetyo (Mahasiswa Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Malang)

Rayakan Hari Jadi ke-1621, Upacara HUT Kabupaten Malang digelar Sederhana

0
Foto : Bupati Malang dan jajaran forkopimda dalam upacara perayaan hari jadi Kabupaten Malang

MALANG, PIJARNEWS.ID – Upacara peringatan Hari Jadi Kabupaten Malang ke-1261 digelar secara sederhana yang bertempat di Pendopo Kabupaten Malang, Kepanjen pada Minggu (28/11).

Pada peringatan Hari Jadi Kabupaten Malang yang diperingati setiap tanggal 28 November ini, mengambil tema ‘Bebas Covid, Ekonomi Bangkit Menuju Malang Makmur’, diikuti kurang lebih 50 peserta upacara dengan menerapkan protokol kesehatan yang ketat.

Hadir dalam kegiatan Bupati Malang Drs. M. H. Sanusi, M.M. yang juga sebagai Inspektur upacara peringatan Hari Jadi Kabupaten Malang ke-1261, Forkopimda Kabupaten Malang dan Forkopimda Kota Batu, Camat Seluruh Kabupaten Malang serta OPD Kabupaten Malang.

Dalam kesempatan itu Bupati Malang, Drs. H.M. Sanusi dalam sambutannya mengajak Pemerintah semangat guyub rukun gotong-royong kebersamaan dalam membangun Kabupaten Malang, serta mengapresiasi kerja keras jajaran lingkungan Pemerintah Kabupaten Malang.

“Saya mengajak semuanya semangat guyub rukun, gotong-royong kebersamaan dalam membangun Kabupaten Malang, terlebih karena pandemi Covid-19 selama dua tahun terakhir yang sangat berpengaruh dan berdampak pada pertumbuhan ekonomi. Tetapi berkat semangat kebersamaan dari berbagai pihak dan juga guyup rukun serta gotong-royong masyarakat Kabupaten Malang, alhamdulillah penanganan Covid-19 di Kabupaten Malang telah menunjukkan progres yang menggembirakan dengan turunnya status PPKM dari level 3 ke level 2,” ujar Sanusi.

Selain itu, Kabupaten Malang juga meraih beberapa penghargaan dan prestasi sebagai hadiah pada hari jadinya yang ke-1261 ini.

“Di hari jadi yang ke-1261 ini, Kabupaten Malang telah meraih penghargaan sebagai Kabupaten Terinovatif dengan diraihnya penghargaan dari Pemerintah Pusat sebanyak 17 piagam penghargaan,” ungkapnya.

“Saya mengapresiasi jajaran lingkungan Pemerintah Kabupaten Malang yang selama ini sudah bekerja keras dan membangun sinergi yang kuat sehingga Kabupaten Malang, berhasil meraih berbagai penghargaan dan prestasi di tahun ini,” tambahnya

Dalam kesempatan yang sama, Kapolres Malang AKBP, Bagoes Wibisono mewakili keluarga besar Polres Malang mengucapkan Dirgahayu Kabupaten Malang ke-1261.

“Di Hari Ulang Tahun Kabupaten Malang ini, mari kita jadikan Kabupaten Malang sebagai Kabupaten yang kondusif. Dengan mempercepat vaksinasi dan selalu menerapkan protokol kesehatan secara disiplin,” harapnya singkat. (Tyo/Hen)

Seorang Petani Jadi Korban Tanah Longsor Wonosari, Begini Ceritanya

0
Foto : Longsor menerjang wilayah Desa Bangelan Wonosari satu orang petani jadi korban, hingga saat ini masih dilakukan pencarian korban yang tertimbun longsoran tanah

MALANG, PIJARNEWS.ID – Intensitas hujan tinggi terus dibayangi dengan bencana alam. Tanah longsor melanda Desa Bangelan, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Malang pada Minggu (28/11) siang. Untuk kali keempat Wonosari mengalami bencana tanah longsor. Nahasnya, kali ini longsor memakan korban. Satu orang warga dilaporkan tertimbun longsoran tanah.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Malang, Sadono Irawan membenarkan. Bencana itu terjadi sore hari udai Wonosari diguyur hujan lebat sejak pukul 14.00 siang.

Semula, kondisi baik-baik saja. Namun hujan semakin lebat saat korban tengah berada di ladang garapan. Sayangnya, longsor seketika terjadi dari tanah tebing yang berada di lokasi. Korban tertimbun material tanah dan bebatuan. Hingga saat ini tim gabungan BPBD, SAR, dan sejumlah unsur lain masih melakukan evakuasi, pembersihan dan upaya pencarian korban.

Diketahui, korban bernama Cukup, (68), pria asal Desa Karangrejo Kecamatan Kromengan. Korban yang berprofesi sebagai petani ini tak menghentikan pekerjaannya di ladang saat hujan mulai lebat.

“Beberapa petani masih melakukan pekerjaan ladang tanpa menghiraukan himbuan dari orang lain untuk segera mengakhiri pekerjaan, akhirnya longsor tiba-tiba datang dan menimbun korban,” Kata Sadono.

Tim gabungan menemui kendala saat evakuasi, lantaran lokasi yang sulit dijangkau kendaraan, baik roda dua maupun roda empat. “Dampak kerusakan dan kerugian masih dalam pendataan. Sampai dengan saat ini masih dilakukan penanganan dan evakuasi korban terdampak secara manual oleh warga sekitar dan korban belum ditemukan,” tambah Dono. (Tyo/Hen)

Polres Malang Lepas Kontigen Pencak Silat Menuju Turnamen Kapolda Jatim

0
Foto: Polres Malang melakukan pelepasan terhadap delapan atlet dan lima official diberangkatkan menuju turnamen Pencak Silat Remaja Piala Kapolda Jatim 2021

MALANG, PIJARNEWS.ID – Kepolisian Resort (Polres) Malang melakukan pelepasan kontingen pencak silat Polres Malang yang akan berlaga di Turnamen Pencak Silat Remaja Piala Kapolda Jatim 2021, sebanyak delapan atlet dan lima official diberangkatkan.

“Semoga atlet–atlet yang terpilih untuk memperkuat Tim Pencak Silat Polres Malang yang akan bertanding di Piala Kapolda Jatim dapat mempersembahkan yang terbaik,” ucap Kapolres Malang AKBP, Bagoes Wibisono saat melepas rombongan pada Kamis (25/11) kemarin.

Kapolres Malang sangat mengapresiasi pemuda yang mencintai olahraga, sebab dengan giat serta aktif berolahraga, maka akan terhindar dari kegiatan yang negatif seperti terjerumus dalam lingkaran penyalahgunaan narkoba.

Pada kesempatan yang sama, AKBP Bagoes Wibisono juga mengingatkan kepada seluruh pemuda di Kabupaten Malang agar mencintai olahraga, karena kegiatan itu sangat positif. “Sehingga nantinya para pemuda akan terjauh dari kegiatan negatif apalagi kriminal,” tegasnya.

Diketahui bahwa Turnamen ini digalakan oleh Kapolda Jatim, Irjen Pol Nico Afinta dalam upaya untuk menjaring bakat terbaik dan sebagai wadah pemuda berprestasi di Jawa Timur.

“Turnamen Pencak Silat ini, diikuti oleh peserta dengan umur maksimal 17 tahun. Dengan rekomendasi dari IPSI Kabupaten/Kota setempat,” terang Bagoes.

Turnamen yang akan dilaksanakan mulai dari tanggal 26-29 November 2021 ini, dilaksanakan dengan menggunakan sistem gugur.

“Kita ketahui bersama bahwa Bapak Kapolda Jatim sangat mengapresiasi sekali terhadap prestasi para atlet, semoga ini dapat menjadikan motivasi para atlet muda di Kabupaten Malang,” pungkasnya. (Tyo/Hen)

Prof. Zainuddin Maliki : Politik Ada yang Memiliki Kekuasaan, Tapi Tidak Menguasai

0
Foto : Prof. Zainuddin Maliki saat menjadi narasumber dalam webinar yang diadakan oleh Kedai Jambu Institute (KJI) dengan tema Ancaman Oligarki dalam Kehidupan Demokrasi (26/11)

JOMBANG, PIJARNEWS.ID – Kedai Jambu Institute (KJI) mengadakan Webinar dengan tema “Ancaman Oligarki dalam Kehidupan Demokrasi” pada Jum’at (26/11) melalui Zoom Meeting. Acara yang dipandu oleh Wilda Kumalasari, Peneliti Muda RBC Institute A. Malik Fajar tersebut, menghadirkan Wawan Sobari, S.I.P, M.A.,P.hD, pengamat politik, serta Prof. Zainuddin Maliki, M.Si, Anggota DPR RI 2019-2024 Fraksi Partai Amanat Nasional.

Wawan Sobari mengatakan, tidak mudah memutus mata rantai oligarki. “Karena jumlah political power yang juga tidak mudah untuk melawan, kita harus mencoba melihat demokrasi bahwa masih banyak kekurangan. Kekuatan penyeimbang seperti organisasi massa tentunya dapat menjadi kekuatan dan juga harapan. Kekuatan moral dari ormas harus di kedepankan, serta politik digital juga harus di cermati dengan memainkan narasi. Dimana ruang digital yang menjadi ruang politik baru,” kata Dosen Ilmu Politik Universitas Brawijaya tersebut.

Disisi lain Prof. Zainuddin juga menyampaikan seperti apa politik di Indonesia. Ia menilai, saat ini banyak politik yang di isi oleh politisi yang seakan-akan memihak rakyat kecil. “Semisal seperti ada politisi yang tidur di rumah guru honorer, dirasa sudah memihak pada nasib guru honorer. Namun itu ternyata hanya sebagai pencitraan, apalagi di era media,” katanya.

Lebih lanjut Prof. Zainuddin menyampaikan, bahwa kondisi demokrasi kita saat ini juga dikuasai oleh oligarki. “Politik itu ada yang memiliki kekuasaan, tapi yang memiliki kekuasaan tidak selalu menguasai. Begitupun sebaliknya, yang menguasai juga tidak harus memiliki kekuasaan,” terang pria kelahiran Tulungagung tersebut.

“Masyarakat kita juga banyak yang pragmatis, dimana kebanyakan mereka mempunyai NPWP, tapi bukan Nomor Pokok Wajib Pajak, namun Nomor Piro Wani Piro. Jadi mereka tidak memilih yang benar, tetapi lebih memilih yang bayar,” ungkap Prof. Zainuddin.

Menurutnya, jika politik semuanya terjadi seperti yang ia rasakan, maka akan tidak berlaku Nomor Piro Wani Piro. “Mereka yang ada di Dapil saya, Gresik-Lamongan memilih yang benar. Maka kondisi demokrasi bukan jadi politik transaksional, karena harusnya partai yang memiliki transaksi, bukan orang per orang. Jika demokrasi kita tidak terbuka seperti sekarang,” pungkas Prof. Zainuddin. (*)

Menuju ‘Pamekasan Cantik’, Kotaku Pamekasan Gelar Lokakarya

0
Foto: Lokakarya yang dilaksanakan secara virtual selama 2 hari oleh Program Kotaku Kabupaten Pamekasan

PAMEKASAN, PIJARNEWS.ID – Program KOTAKU (Kota Tanpa Kumuh) Kabupaten Pamekasan pada tahun ini melaksanakan Lokakarya yang dilaksanakan secara virtual selama 2 hari, yakni sejak hari Rabu-Kamis (24-25/11). Hadir dalam kegiatan ini, Abdussalam, S.Sos., M.KP. Team Leader OSP 3 Jawa Timur, serta Rekyan Puruhitasari, PPK Wilayah 1 Balai Prasarana Permukiman Wilayah (BPPW) yang sekaligus membuka acara LOKAKARYA. Rekyan menyampaikan, pekerjaan yang sudah dilaksanakan di Kabupaten Pamekasan dapat dipelihara dan dirawat oleh Kelompok Pemanfaat dan Pemelihara (KPP) dari hasil pembangunan yang sudah dilaksanakan.

Selain itu, kelembagaan ini dapat diperkuat oleh dukungan Pemerintah Kabupaten Pamekasan lewat Pokja PKP dan Forum PKP. Harapannya adalah, untuk forum PKP sudah siap untuk dibentuk sebagai visi misi kawasan permukiman beserta pencegahan adanya kumuh kembali. Kegiatan ini diikuti oleh beberapa unsur OPD Kabupaten Pamekasan meliputi BAPPEDA, DPRKP, Dinas Lingkuhan Hidup, Unsur Kecamatan, Lurah/Kepala Desa, BKM, Tim Fasilitator, Media dan Perguruan Tinggi, Tim Korkot Cluster 04 Surabaya, dan OSP 3 Jawa Timur.

Pada pelaksanaan Lokakarya hari pertama, menghadirkan narasumber dari BAPPEDA (Kebijakan Daerah dalam Penanganan Kumuh), Askot Mandiri Kabupaten Pamekasan (Target dan Capaian Program Penanganan Kumuh dalam Program KOTAKU), dan BKM Potre Koneng Kelurahan Kangenan (Best Practise Kelurahan Kangenan).

Diskusi Lokakarya ini dilaksanakan secara panel. Salah satu pemateri dalam Lokakarya pada hari pertama adalah BAPPEDA Kabupaten Pamekasan, materi yang disampaikan mengenai Kebijakan Daerah dalam Penanganan Kumuh. Materi ini disampaikan oleh Andri Isfaraini, SP. Kasubid Permukiman dan Infrastruktur BAPPEDA, yang menjelaskan penanganan kumuh Kabupaten Pamekasan yang terbagi menjadi 2 yaitu, luasan Kumuh sesuai SK Lama Bupati Tahun 2015 dengan total 60.91 Ha dengan 7 Kelurahan/Desa yang ada di Kecamatan Pamekasan, pada akhir tahun 2019 sudah tuntas.

Andri menjelaskan penuntusan luasan kumuh tersebut berkat intervensi kegiatan KOTAKU (BDI tahun 2018 dan BPM tahun 2019) dan kolaborasi dengan pendanaan APBD 1 dan APBD 2. Yang kedua, sesuai SK Baru Bupati Tahun 2019 dengan total 244.75 Ha yang tersebar di 8 Kecamatan di Kabupaten Pamekasan. Progres pengurangan kumuh SK yang baru ini masih belum final, tapi yang pasti Insya Allah pada akhir tahun ini akan terjadi pengurangan kumuh.

Lebih lanjut Andri menjelaskan, untuk Program Prioritas RPJMD 2018-2023 Kabupaten Pamekasan adalah Pendidikan, Ekonomi, Kesehatan & Infrastruktur. Prioritas Infrastruktur antara lain adalah kegiatan air minum, peningkatan jalan, sanitasi for All dan RTH (Ruang terbuka Hijau). Kegiatan tersebut akan dilakukan berbasis pada penataan kawasan yang outcome-nya adalah menuju “Pamekasan Cantik”. (Hen)

9 Rumah Ambruk Diterjang Hujan dan Angin di Malang

0
Foto: Proses Tim gabungan bersama warga Desa Kemantren melakukan kerja bakti penanganan usai terjangan angin kenjang saat hujan lebat

MALANG, PIJARNEWS.ID – Hujan lebat disertai angin kencang yang mengguyur wilayah Kecamatan Jabung Kabupaten Malang, Rabu (24/11). Sedikitnya sembilan rumah rusak akibat terjangan angin kencang, seperti yang terjadi di Desa Kemantren RT. 05 RW. 05, Kecamatan Jabung.

Kapolsek Jabung, AKP Koesmi membenarkan kejadian tersebut, bahwa angin kencang melanda sekitar jam 14.00 WIB. Sembilan rumah terdampak, rata-rata salah satu sisi tembok rumah ambruk serta genting rumah mereka berserakan terbawa angin.

“Tidak ada korban jiwa, namun ada satu rumah yang rusaknya cukup berat dan ada sekitar delapan rumah yang mengalami kerusakan ringan dalam kejadian kemarin,” ucap Koesmindar kepada media, Kamis (25/11).

Ia menyampaikan, bahwa pihaknya bersama unsur relawan telah melaksanakan kerja bakti membersihkan dan memperbaiki rumah warga yang terdampak musibah tersebut.

“Tim langsung turun ke lapangan bersama-sama dengan masyarakat, TNI, BPBD dan semua unsur terkait untuk meringankan beban warga yang terkena musibah,” terang Koesmindar.

Koesmindar berharap, kepada semua warga, agar lebih waspada dalam menghadapi cuaca ekstrim tahun ini. “Sudah banyak terjadi bencana alam walau tergolong kategori bencana ringan, namun kita tidak boleh underestimate karena bencana datangnya tanpa diduga-duga,” jelasnya. (Tyo/Hen)

Hari Guru, UMM Mengenang Sang Guru Bangsa dengan Melaunching 3 Buku tentang Malik Fadjar

0
Para kerabat, saksi hidup Malik Fadjar bersama dengan para pejabat UMM.

MALANG, PIJARNEWS.ID – Memperingati Hari Guru Nasional, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melangsungkan refleksi dengan mengenang Prof. H. Malik Fadjar, M.Sc., Sang Guru Bangsa. Diikuti oleh dosen dan karyawan secara daring dan luring, Kampus Putih turut menghadirkan pembicara yang merupakan kerabat dan saksi hidup kiprah Malik Fadjar pada Kamis (25/11). Menariknya, dalam gelaran tersebut juga ada pelucuran tiga buku yang membahas Malik Fadjar, serta launching lagu ‘Ampunkanku Ya Rabbi’ karya warga binaan Lapas Perempuan Kota Malang.

Ketua Badan Pembina Harian (BPH) UMM sekaligus Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Prof. Dr. Muhadjir Effendy, M.A.P. yang hadir dalam acara tersebut mengaku, bahwa ia telah mengetahui Malik sejak kelas 3 SMP. Diceritakan Muhadjir, Malik sempat ingin pergi ke Jakarta namun diyakinkan untuk berkiprah di UMM.

“Bersama salah satu teman, kami berhasil meyakinkan Pak Malik, bahwa dia bisa menjadi orang hebat meski berada di Malang, tepatnya berjuang membangun UMM,” tuturnya.

Prof. Dr. Muhadjir Effendy, M.A.P. menceritakan salah satu kisahnya bersama Malik Fadjar.

Sayangnya, lanjut Muhadjir, Malik waktu itu belum memiliki kartu anggota Muhammadiyah. Sehingga tidak bisa mencalonkan diri menjadi rektor UMM. Muhadjir juga mengatakan, ia sampai bersusah payah ke Yogyakarta untuk mengurusnya.

“Berbagai pengalaman yang telah dilalui oleh Pak Malik menjadi pengingat bagi kita untuk terus meneladani kehumanisan dan pandangan-pandangan yang luar biasa,” tegas mantan Mendikbud tersebut.

Sementara itu, Wakil Rektor I UMM, Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si. mengatakan bahwa pada agenda ini para peserta bisa memahami pemikiran Malik, apalagi dengan hadirnya berbagai narasumber sehingga bisa memahami dengan beragam perspektif.

Pada kesempatan yang sama, Prof. Dr. Imam Suprayogo, M.Si mengatakan, agenda ini merupakan hal yang penting. Apalagi jika para peserta dan tamu ingin menjadi manusia yang sukses. “Maka, Malik Fadjar adalah sosok yang tepat karena telah sukses dalam aspek keluarga, perjuangan politik, dan juga dalam dunia pendidikan,” katanya.

Imam juga menyampaikan hal menarik bagaimana Malik Fadjar sangat menghargai dan menghormati istrinya, ia selalu berdiskusi terkait keputusan-keputusan yang ia buat. Bahkan masalah-masalah pelik yang sedang Malik hadapi. “Kehidupan Pak Malik yang lapang dan lancar tentu salah satunya ditopang oleh doa-doa, puasa dan juga tahajud dari Bu Malik. Tidak seperti istri Abu Lahab yang malah mengompori, ketika Pak Malik pulang dengan kepenatan, Bu Malik hadir untuk mendinginkan,” tuturnya.

Imam juga mengenang bagaimana Malik tidak suka sama sekali dengan budaya ‘titip-menitip’. Mereka yang dititipkan adalah mereka yang bermasalah. Jika orang yang bermasalah dimasukkan ke Universitas, maka tinggal menunggu waktu saja menjadi perguruan tinggi yang bermasalah.

“Dulu, Pak Malik juga berpesan bahwa dosen itu memberikan cahaya. Selalu terang di berbagai aspek seperti agama, ilmu dan lainnya. Jika seorang dosen gelap, maka akan melahirkan kegelapan. Sebaliknya, jika terang, akan menghasilkan cahaya terang,” tegasnya.

Dalam rangkaian peluncuran buku, Prof. Dr. Siti Zuhro, MA, peneliti BRIN mengungkapkan, Malik sudah menjadi seseorang yang penting dalam dunia pendidikan. Semua sepak terjang Malik ketika menjadi Rektor hingga Menteri senantiasa memberikan teladan. “Nanti mungkin bisa kita ajukan menjadi pahlawan yang concern dalam bidang pendidikan,” tuturnya.

Ia teringat tatkala Malik menghubunginya untuk mengajukan permintaan buku untuk rumah baca yang didirikan Malik. Saat ini, rumah baca itulah yang menjadi inspirasi Siti untuk menggalakkan Desa Cerdas di berbagai wilayah.

Pada kesempatan yang sama, Prof. Dr. Setya Yuwana, M.A. menerangkan terkait kebijakan-kebijakan yang luar biasa ketika Malik menjadi Menteri. Ada tiga hal utama yang Malik inisiasi yakni otonomi pendidikan, kurikulum berbasis kompetensi dan Human Investmen.

“Kebijakan otonomi pendidikan misalnya yang memberikan kewenangan kepada daerah untuk mengembangkan. Pak Malik Fadjar sudah meletakkan dasar-dasar kuat bagi pendidikan di Indonesia,” ungkap Setya.

Kesan yang tak jauh berbeda disampaikan Prof. Dr. Franz Magnis Suseno. Bertemu sejak 30 tahun lalu, ia melihat Malik Fadjar sebagai sosok intelektual yang menyenangkan dengan senyuman. Malik Fadjar juga senantiasa mementingkan multikulturalisme dan menghadapi perbedaan dengan bijak.

“Terimakasih Malik Fadjar atas persahabatan yang telah kita rajut dan sudah mampir di kehidupan saya,” pungkas Franz. (Hen)

Jelang Nataru, Polres Malang Berikan Sosialisasi Prokes kepada Pengendara

0
Foto: Anggota Satlantas Polres Malang menggelar operasi penyuluhan prokes kepada oengguna jalan

MALANG, PIJARNEWS.ID – Satuan Lalu Lintas (Satlantas) Polres Malang menggelar pembinaan dan penyuluhan (Binluh) kepada pengendara di Jalan Raya Mulyoagung, Dau, Malang pada Selasa (23/11) kemarin.

Dalam kegiatan tersebut, nampak beberapa anggota Satlantas Polres Malang, membagikan masker kepada para pengguna jalan. “Kegiatan Operasi Zebra Semeru Tahun 2021 ini, kita melaksanakan himbauan dan penegakkan aturan Protokol Kesehatan (Prokes) bagi para pengguna jalan, dan juga di area yang rawan kerumunan masyarakat,” AKP Agung saat dikonfirmasi, Rabu (24/11).

Selain sosialisasi, Satlantas juga melaksanakan kegiatan pelatihan Safety Riding for Humanity dengan target beberapa komunitas yang banyak beroprasional sebagai pengguna jalan.

“Hal ini juga kita laksanakan sebagai wujud untuk menekan jumlah kecelakaan lalu lintas (laka lantas) yang terjadi di wilayah Kabupaten Malang,” ujar Agung.

Lebih lanjut, Agung menjelaskan, bahwa operasi kewilayahan ini dalam rangka menghadapi Natal dan Tahun Baru (Nataru) tahun 2022. “Jelang Natal dan Tahun Baru, jajaran kepolisian Se-Jawa Timur serentak melaksanakan operasi Zebra Semeru tahun 2021,” tuturnya.

Ia bersama anggotanya juga mensosialisasikan aplikasi Peduli Lindungi bagi pengendara. “Aplikasi ini menjadi kebiasaan di masa kehidupan baru ini,” tutupnya. (Tyo/Hen)

Peran Muhammadiyah dalam Arus Digitalisasi Global

0
Penulis : Royce Diana Sari, S.H. (Mahasiswa Prodi Magister Ilmu Hukum Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Malang)

Digitalisasi pada masa dewasa ini sudah mempengaruhi pola hidup dan pola perkembangan jaman. Perkembangan teknologi yang sangat pesat ini menuntut Muhammadiyah bersikap inklusif. Oleh karena itu, dibutuhkan kemampuan seluruh masyarakat terutama warga Muhammadiyah dalam hal literasi digital. Hal itu penting agar sumber daya manusia yang ada, memahami, mengakses, memproduksi, dan merespons segala informasi dalan konteks dakwah amar ma’ruf nahi munkar.

Muhammadiyah lahir dari pemikiran pembaruan K.H. Ahmad Dahlan. Ketika beliau menunaikan ibadah haji, beliau tinggal dan bermukim di Mekkah untuk berguru pada ulama-ulama Indonesia yang ada di sana. Sepulang dari Mekkah, Kyai Ahmad Dahlan melihat keadaan ummat Islam pada waktu itu dalam keadaan penuh dengan amalan-amalan yang bersifat mistik.

Kyai Haji Ahmad Dahlan tergerak hatinya untuk mengajak mereka kembali pada ajaran Islam yang sebenarnya berdasarkan Alquran dan Hadits, ia lantas memanfaatkan aktivitasnya sebagai pedagang untuk berdakwah ke lapisan masyarakat terbawah. Sehingga dalam waktu singkat, ajarannya menyebar ke luar kampung Kauman, bahkan sampai ke luar daerah dan luar pulau Jawa.

Muhammadiyah didirikan di Kampung Kauman, Yogyakarta, pada 8 Dzulhijjah 1330 H atau 18 November 1912 M. Gagasan untuk mendirikan organisasi Muhammadiyah, selain untuk mengaktualisasikan pikiran-pikiran pembaruan Kyai Ahmad Dahlan, juga untuk mewadahi sekolah Madrasah Ibtidaiyah Diniyah Islamiyah yang didirikannya pada 1 Desember 1911.

Organisasi ini mengajukan pengesahannya pada tanggal 20 Desember 1912, dengan mengirim Statuten Muhammadiyah atau Anggaran Dasar Muhammadiyah yang pertama pada tahun 1912. Kemudian baru disahkan oleh Gubernur Jenderal Belanda pada 22 Agustus 1914.

Kelahiran Muhammadiyah sebagaimana digambarkan melekat dengan sikap, pemikiran, dan langkah Kyai Haji Ahmad Dahlan sebagai pendirinya. Hal itu tertuang dalam visi misi Muhammadiyah.

Visi Muhammadiyah adalah sebagai gerakan Islam yang berlandaskan Alquran dan As-Sunnah dengan watak tajdid yang dimilikinya. Serta senantiasa istiqamah dan aktif dalam melaksanakan dakwah islam amar ma’ruf nahi munkar di segala bidang. Sehingga menjadikan rahmatan lil ‘alamin bagi umat, bangsa, dan dunia menuju terciptanya masyarakat Islam yang sebenar-benarnya yang diridhoi Allah SWT.

Sedangkan misi Muhammadiyah ada empat. Pertama, menegakkan keyakinan tauhid yang murni sesuai dengan ajaran Allah SWT yang dibawa oleh Rasulullah yang disyariatkan sejak Nabi Nuh hingga Nabi Muhammad SAW. Lalu yang kedua, memahami agama dengan menggunakan akal pikiran sesuai dengan jiwa ajaran Islam untuk menjawab dan menyelesaikan persoalan-persoalan kehidupan yang bersifat duniawi.

Ketiga, menyebarluaskan ajaran Islam yang bersumber pada Alquran sebagai kitab Allah yang terakhir untuk umat manusia sebagai penjelasannya. Dan yang keempat, mewujudkan amalan-amalan Islam dalam kehidupan pribadi, keluarga dan masyarakat.

Literasi Digital

Dikutip dari buku Peran Literasi Digital di Masa Pandemik (2021) karya Devri Suherdi, literasi digital merupakan pengetahuan serta kecakapan pengguna dalam memanfaatkan media digital, seperti alat komunikasi, jaringan internet dan lain sebagainya. Kecakapan pengguna dalam literasi digital mencakup kemampuan untuk menemukan, mengerjakan, mengevaluasi, menggunakan, membuat serta memanfaatkannya dengan bijak, cerdas, cermat, tepat sesuai kegunaannya.

Sedangkan menurut Yudha Pradana dalam Atribusi Kewargaan Digital dalam Literasi Digital (2018), literasi digital memiliki empat prinsip dasar. Pertama, pemahaman yang artinya masyarakat memiliki kemampuan untuk memahami informasi yang diberikan media, baik secara implisit ataupun eksplisit. Kedua saling ketergantungan, yang artinya antara media yang satu dengan lainnya saling bergantung dan berhubungan. Media yang ada harus saling berdampingan serta melengkapi antara satu sama lain.

Ketiga, faktor sosial yang artinya media saling berbagi pesan atau informasi kepada masayrakat. Karena keberhasilan jangka panjang media ditentukan oleh pembagi serta penerima informasi. Dan keempat, kurasi, yang artinya masyarakat memiliki kemampuan untuk mengakses, memahami, serta menyimpan informasi untuk dibaca di lain hari. Kurasi juga termasuk kemampuan bekerja sama untuk mencari, mengumpulkan serta mengorganisasi informasi yang dinilai berguna.

Respons Muhammadiyah dalam Arus Digitalisasi

Bagaimana sikap Muhammadiyah dengan pesatnya perkembangan teknologi dan digitalisasi pada era dewasa ini? Sesuai watak tajdid yang dimiliki, Muhammadiyah dituntut untuk bersikap inklusif terhadap hadirnya masa digitalisasi. Muhammadiyah harus mampu menerima dan menyesuaikan diri, termasuk didalamnya berbagai macam keberagaman, perbedaan penafsiran, bahkan akibat hukum dari segala sesuatu yang berubah menjadi digital.

Sebagai contoh maraknya belanja atau jual beli online. Bagaimana Muhammadiyah bersikap? Jual beli adalah kegiatan bertemunya penjual dan pembeli, sehingga barang berpindah dari penjual kepada pembeli. Namun sekarang bergeser menjadi tidak saja hanya bertemu secara tatap muka, tapi cukup melalui media online.

Drs. Muhsin Hariyanto M.Ag, Dosen Ekonomi dan Perbankan Islam Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, dalam kuliah Ramadan pada 24 Mei 2018 lalu mengatakan, berbisnis merupakan aktivitas yang sangat dianjurkan dalam ajaran agama Islam. Hal itu seperti yang diajarkan dalam Alquran surat Al-Baqarah ayat 275. Namun dengan catatan, selama dilakukan dengan benar sesuai tuntunan Islam.

Beberapa hal yang wajib dipastikan dalam transaksi online adalah barang harus jelas dan pasti ada, harga pasti dan wajar, komitmen penjual dan pembeli, tidak ada yang dirugikan atas jual beli tersebut, dan tentu tidak melanggar syariat Islam. Maka warga Muhammadiyah wajib memilih dan memilah ketika melakukan transaksi secara online.

Semangat amar ma’ruf dan nahi munkar wajib dipegang teguh oleh Muhammadiyah, apalagi di masa pandemi ini. Seperti kata almarhum K.H. Nadjib Hamid, Wakil Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa timur dalam kajian milad Muhammadiyah ke 108 di Kota Pasuruan.

“Era pandemi, memberi fitnah terhadap kita tentang beberapa hal. Salah satunya adalah bahwa selama ini pemahaman keagamaan warga Muhammadiyah khususnya, dan umat Islam pada umumnya, adalah paham keagamaan yang bersifat normal dalam situasi normal,” katanya.

Maka situasi yang tidak normal dan berubah hampir 360 derajat ini, warga Muhammadiyah tidak boleh gagap dalam menerapkan kaidah agama secara normal di masa berubahnya digitalisasi yang dipicu oleh pandemi. Muhammadiyah harus mengambil peran sebagai aktor sosial dalam menginisiasi berbagai bentuk usaha, baik itu finansial, material, maupun sosial.

Hal itu penting agar semangat inklusivitas sosial di era literasi digital, mencapai build forward better. Perkembangan Muhammadiyah semakin hari semakin baik, karena selalu haus akan semangat tajdid dan fastabiqul khairat. Sesuai satu bait dalam theme song Muktamar Muhammadiyah-Aisyiyah ke 48, “Muhammadiyah teguhkan asa, majukan umat, jayakan bangsa”.

Penulis : Royce Diana Sari, S.H. (Mahasiswa Prodi Magister Ilmu Hukum Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Malang)

Update