SURABAYA, PIJARNEWS.ID – Cuaca yang tak menentu kini tak lagi menjadi momok bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) kerupuk di kawasan Kenjeran, Surabaya. Melalui pendanaan DPPM Kemendiktisaintek 2026, tim pengabdian masyarakat Universitas Muhammadiyah Surabaya (UM Surabaya) sukses menghadirkan inovasi berupa mesin pengering hemat energi pada Minggu (16/8/2026).
Program ini tidak sekadar memberikan bantuan alat bantu produksi, tetapi juga mengintegrasikan penerapan Teknologi Tepat Guna (TTG) dengan penguatan pemasaran dan manajemen bisnis UMKM.
Selama ini, perajin kerupuk Kenjeran sangat bergantung pada panas matahari. Saat musim hujan tiba, proses pengeringan menjadi tidak konsisten sehingga menghambat kontinuitas produksi dan pemenuhan permintaan pasar. Kehadiran mesin pengering hemat energi dari tim UM Surabaya ini memberikan dampak nyata terhadap efisiensi operasional para perajin.
Waktu pengeringan yang sebelumnya memakan waktu hingga 24 sampai 72 jam kini terpangkas drastis menjadi hanya 4 hingga 6 jam saja. Efisiensi waktu ini turut mendongkrak kapasitas produksi harian yang semula hanya berkisar 20 hingga 30 kilogram menjadi 50 hingga 80 kilogram per harinya.
Peningkatan kapasitas produksi yang signifikan tersebut tentunya harus diimbangi dengan strategi penjualan yang mumpuni. Oleh karena itu, pelaku UMKM turut dibekali dengan pendampingan marketing mix dan manajemen keberlanjutan usaha.
Para perajin mendapatkan materi komprehensif mulai dari strategi pengembangan produk, penentuan harga jual, perluasan saluran distribusi, hingga peningkatan aktivitas promosi. Selain itu, mereka juga diajarkan cara mengendalikan biaya produksi, menjaga standar kualitas, serta melakukan pencatatan pembukuan usaha dengan lebih tertib.
Ketua Tim Pengabdian UM Surabaya, Halimatus Sa’diyah, menegaskan bahwa penerapan inovasi ini harus berjalan beriringan dengan perbaikan manajerial. Ia menjelaskan bahwa program ini tidak hanya berfokus pada pengadaan mesin pengering semata, tetapi juga berupaya memastikan agar produk UMKM tersebut memiliki daya saing yang tinggi sehingga usahanya dapat terus berkembang secara berkelanjutan.
Langkah strategis UM Surabaya ini sejalan dengan berbagai program pengabdian di Indonesia yang mulai secara aktif memanfaatkan teknologi untuk memutus ketergantungan proses produksi pada kondisi alam.
Dengan kolaborasi antara inovasi teknologi, strategi pemasaran yang tepat, dan manajemen yang baik, UMKM kerupuk Kenjeran diharapkan semakin adaptif serta tangguh di tengah ketatnya persaingan pasar. Ke depannya, penguatan kapasitas ini diyakini mampu meningkatkan kemandirian ekonomi masyarakat sekaligus mengukuhkan kerupuk Kenjeran sebagai salah satu komoditas unggulan daerah.














