TANGERANG SELATAN, PIJARNEWS.ID – Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah (JIMM) Jakarta menghelat Tadarus Isu Strategis (Tadris) dengan mengangkat topik “Quo Vadis Civil Islam?” di Gerak Gerik Cafe and Bookstore, Tangerang Selatan pada Jum’at (23/1/2026).
Tadris edisi perdana ini menghadirkan beberapa narasumber seperti Direktur Eksekutif MAARIF Institute Andar Nubowo, Akademisi UHAMKA Rifma Ghulam Dzaljad, dan Dewan Pengarah Jaringan Pendidikan Pemilih untuk Rakyat (JPPR) Nurlia Dian Paramita.
Direktur Eksekutif MAARIF Institute Andar Nubowo menyambut baik inisiatif yang dimotori oleh sejumlah kaum muda yang tergabung dalam JIMM ini. Ia menilai komunitas kultural yang dihidupkan oleh anak-anak muda ibarat lilin di tengah meredupnya gairah banyak kalangan muda untuk membicarakan isu-isu yang dianggap pinggiran.
“Enklave-enklave seperti JIMM ini penting untuk merawat kewarasan berpikir,” ucapnya.
Akademisi UHAMKA yang juga Wakil Dekan FISIP UHAMKA Rifma Ghulam mengatakan bahwa suara-suara moral dari kalangan kampus Muhammadiyah memang tidak begitu terdengar.
“Hal serupa tidak hanya terjadi di kampus Muhammadiyah, tetapi juga terjadi di kampus-kampus lain, yaitu moral fatigue (kelelahan moral),” ujarnya.
Adapun Dewan Pengarah JPPR Nurlia Dian Paramita menyoroti implikasi dari bergesernya civil Islam menjadi uncivil Islam. Baginya, civil Islam berorientasi pada keberpihakan terhadap kepentingan warga.
“Sebaliknya, uncivil Islam lebih mendahulukan kepentingan elit dan di saat yang bersamaan keberpihakan kepada warga tidak lagi menjadi agenda pertama dan utama,” pungkasnya.














