SURABAYA, PIJARNEWS.ID – Pemilihan Umum (Pemilu) tahun 2024 kian mendekat. Dinamika politik juga begitu cepat berubah serta penuh dengan kejutan. Tak terkecuali bagaimana arah suara politik warga Muhammadiyah, terkhusus yang berada di provinsi Jawa Timur.
Dalam rangka itulah, Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik (LHKP) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur menyelenggarakan Diskusi Media dan Press Conference Rilis Hasil Survey di Gedung PWM Jatim, Senin kemarin (24/10/2024).
Sebagaimana tercantum dalam Khittah, Muhammadiyah secara organisasi tidak berafiliasi dengan salah satu partai politik tertentu. Meski begitu, Muhammadiyah tidak melarang kader-kadernya untuk terlibat aktif dalam politik praktis.
“Tidak ada partai politik yang menjadi anak emas maupun anak kandung di Muhammadiyah. Semua kader Muhammadiyah yang potensial dipersilakan untuk maju sebagai calon legislatif dari partai apa saja,” ungkap Sukadiono, Ketua PWM Jatim yang turut hadir dalam agenda tersebut.
Pada kesempatan tersebut, pemaparan hasil riset dilakukan oleh Rully Inayah Romadhoan selaku Ketua Tim Survey Laboratorium Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dan Akhmad Jayadi selaku Tenaga Ahli Kedai Jambu Institute.
Survey yang dilakukan pada bulan September kemarin merupakan riset ilmiah dan independen yang didanai sendiri oleh perguruan tinggi. UMM merupakan salah satu kampus yang ditunjuk PWM Jatim untuk melihat dinamika politik berdasarkan data-data survei.
Dalam simulasi Pemilihan Presiden (Pilpres), nama Ganjar Pranowo menjadi capres yang paling banyak dipilih warga Muhammadiyah dengan persentase 34,4 persen. Sementara Anies Baswedan dan Prabowo Subianto memiliki elektabilitas yang sama di angka 31,3 persen.
“Apabila dilihat dari segi afiliasi organisasi kemasyarakatan (ormas), 21,9 persen warga Muhammadiyah memilih Gerindra, 18,8 persen memilih PKS, 18 persen memilih PAN. Sementara sisanya tersebar ke berbagai partai,” ujar Rully. (msqn)














