SUMENEP, PIJARNEWS.ID – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumenep, Jawa Timur, terus memperluas program pengembangan desa wisata yang kini telah menyentuh 50 titik. Langkah strategis ini digencarkan guna mendongkrak taraf perekonomian masyarakat sekaligus memacu pertumbuhan sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) setempat.
Kepala Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Disbudporapar) Kabupaten Sumenep, Faruk Hanafi, menjelaskan bahwa pemetaan dan pengembangan destinasi ini sangat bergantung pada karakteristik serta potensi bawaan dari masing-masing wilayah.
“Awalnya jumlah desa yang menetapkan pengembangan ekonomi desa di sektor wisata hanya sebanyak 27 desa, namun dalam perkembangannya, kini menjadi 50 desa,” katanya di Sumenep, Kamis (9/7/2026).
Lebih lanjut, ia memaparkan bahwa desa-desa yang dianugerahi kekayaan lingkungan akan diarahkan untuk menggarap sektor wisata alam. Sebagai representasi, ia menunjuk Desa Lobuk yang berada di wilayah Kecamatan Bluto.
“Desa ini memang terkenal dengan kondisi pantai yang indah, sejuk dan menjadi tempat favorit bagi warga sekitar untuk memancing di sekitar bibir pantai,” katanya.
Merespons potensi tersebut, aparatur Desa Lobuk berinisiatif menata kawasan pesisir dengan membangun berbagai fasilitas penunjang dan mempercantik tata ruang desa. Upaya ini terbukti efektif dalam menarik minat kunjungan wisatawan lokal.
Di sisi lain, Pemkab Sumenep juga mengoptimalkan desa-desa yang memiliki keunggulan di bidang kearifan lokal untuk dijadikan sebagai destinasi wisata budaya. Salah satu tolok ukur utamanya adalah Desa Aengtongtong di Kecamatan Saronggi.
Menurutnya, Desa Aengtongtong telah diakui sebagai sentra kerajinan keris terbesar di Kabupaten Sumenep. Di lokasi ini, para wisatawan ditawarkan pengalaman edukatif karena dapat menyaksikan langsung proses penempaan keris oleh warga setempat.
“Jadi, kalau Desa Lobuk pengembangan objek wisata pada sumber daya alam yang ada di desa tersebut, di Aengtongtong pengembangan objek wisata pada budaya atau wisata budaya,” katanya sebagaimana dikutip Antara.
Prestasi Desa Aengtongtong di kancah global pun patut diperhitungkan. Wilayah ini telah diakui oleh organisasi dunia, UNESCO, sebagai desa dengan populasi empu atau perajin keris terbanyak di dunia, mencapai 446 perajin yang masih aktif berkarya.
Tidak hanya itu, desa ini juga sukses menyabet status juara pertama dalam ajang Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) pada tahun 2022. Rentetan capaian ini mendorong pemerintah daerah untuk memberikan atensi khusus guna menjaga kelestarian dan keberlangsungan Desa Aengtongtong sebagai episentrum wisata budaya unggulan di Sumenep.














