MALANG, PIJARNEWS.ID – Di tengah melesatnya tren wisata alam, konsep ekowisata di Indonesia rentan tereduksi menjadi komoditas ekonomi semata. Merespons fenomena ini, kalangan akademisi dan pemerintah daerah menegaskan urgensi untuk mengembalikan esensi pariwisata ekologis pada tiga pilar utamanya: kelestarian lingkungan, edukasi ekologis, dan pemberdayaan masyarakat.
Ketua Program Studi Sosiologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Awan Setia Dharmawan, S.Sos., M.Si., menekankan bahwa ekowisata merupakan pendekatan pembangunan yang mengintegrasikan aspek konservasi lingkungan dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat lokal. Oleh karena itu, setiap pengembangan destinasi harus tetap mengedepankan kelestarian ekosistem dan nilai-nilai kearifan lokal
Lebih lanjut, ia memaparkan bahwa tolok ukur ekowisata tidak seharusnya sebatas pada keindahan alam atau lonjakan angka kunjungan. Lebih substansial dari itu, ekowisata harus mampu membangun kesadaran publik dalam menjaga alam melalui proses edukasi yang berkelanjutan.
“Ekowisata memiliki keterkaitan yang erat dengan keberlanjutan lingkungan, pendidikan lingkungan, serta pengelolaan destinasi yang berbasis pada kearifan lokal. Ketiga unsur tersebut merupakan fondasi yang tidak boleh diabaikan,” ujarnya.
Ia juga menyoroti pergeseran orientasi industri pariwisata saat ini yang perlahan menjadikan ekowisata sebagai komoditas ekonomi. Hal ini tentu berpotensi menggerus prioritas utama adanya ekowisata, yakni konservasi.
“Hindari ekowisata dari praktik kapitalisasi. Marwah ekowisata harus dikembalikan pada esensinya, yakni menjaga keberlanjutan lingkungan sekaligus menjadi media pendidikan lingkungan bagi masyarakat dan wisatawan,” tegasnya.
Sebagai parameter evaluasi, ia menyatakan bahwa capaian sebuah kawasan ekowisata tidak cukup diukur dari besaran pendapatan ekonomi atau jumlah kunjungan wisatawan. Indikator keberhasilan justru tercermin dari terjaganya kualitas lingkungan, tingginya partisipasi masyarakat, serta menguatnya kesadaran kolektif dalam merawat sumber daya alam.
Sementara itu, Dinas Pariwisata Pemerintah Kota Batu terus mendorong pengembangan sektor pariwisata berbasis eco-tourism yang mengedepankan keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan pelestarian lingkungan. Program pengembangan desa wisata diarahkan untuk memperkuat konservasi alam, pengelolaan sampah, edukasi lingkungan, serta pemberdayaan masyarakat agar manfaat pariwisata dapat dirasakan secara berkelanjutan.
Kesamaan pandangan antara kalangan akademisi dan pemerintah tersebut menunjukkan bahwa masa depan ekowisata tidak hanya ditentukan oleh tingginya angka kunjungan wisatawan, tetapi juga oleh kemampuan seluruh pemangku kepentingan menjaga keseimbangan antara aspek ekonomi, sosial, dan ekologi. Dengan demikian, ekowisata diharapkan mampu menjadi instrumen pembangunan yang berkelanjutan sekaligus memperkuat kualitas lingkungan dan kesejahteraan masyarakat.














