MALANG, PIJARNEWS.ID – Pertumbuhan ekonomi di wilayah Malang Raya dan sekitarnya terbukti tangguh meskipun dihadapkan pada situasi geopolitik global yang tidak menentu. Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Malang, Indra Kuspriyadi, menegaskan bahwa kehadiran BI di era ketidakpastian ini tidak hanya terbatas pada upaya menjaga stabilitas ekonomi, melainkan juga untuk menjamin agar roda perekonomian dapat terus berputar dan berkelanjutan.
“Meski terjadi ketidakpastian ekonomi global karena gejolak geopolitik, termasuk konflik di Timur Tengah, perekonomian di wilayah kerja KPwBI Malang mencatat pertumbuhan cukup signifikan, yakni 6,36 persen pada triwulan I 2026,” katanya di Malang, Rabu (26/8/2026).
Prestasi yang dicapai oleh tujuh wilayah kerja KPwBI Malang, yakni Kota dan Kabupaten Malang, Kota Batu, Kota dan Kabupaten Pasuruan, serta Kota dan Kabupaten Probolinggo berhasil melampaui rata-rata pertumbuhan di tingkat Provinsi Jawa Timur dan nasional. Bersamaan dengan itu, angka inflasi di daerah tersebut sukses dijaga pada batas yang aman, yaitu 2,5 ± 1 persen.
Guna mempertahankan serta meningkatkan tren positif ini, KPwBI Malang merumuskan dua langkah strategis. Langkah pertama adalah mempercepat adopsi digitalisasi yang kini sudah menjadi sebuah kewajiban di berbagai sektor.
“Langkah ini diambil demi menciptakan sumber-sumber pendapatan baru bagi masyarakat dan pemerintah daerah,” ujarnya. Sebagaimana dikutip Antara.
Strategi yang kedua adalah mencari dan mengembangkan motor penggerak ekonomi yang baru. Bank Indonesia Malang berupaya meningkatkan efisiensi pada sektor usaha yang sudah berjalan, sekaligus memacu pertumbuhan industri kreatif yang bertumpu pada teknologi digital.
Untuk mencapai hal ini, kolaborasi erat antara BI dan pemerintah daerah sangat dibutuhkan agar potensi tersebut dapat dimaksimalkan tanpa menambah beban masyarakat.
”Pertumbuhan positif ini harus kita jaga bersama dengan melakukan optimalisasi teknologi dan industri kreatif agar memberikan dampak konkret serta berkelanjutan bagi kemajuan ekonomi di daerah,” ujarnya.
Di skala nasional, resiliensi ekonomi Indonesia juga menunjukkan hasil yang memuaskan dengan raihan pertumbuhan sebesar 5,29 persen pada kuartal kedua 2026. Pencapaian ini ditopang oleh tingginya konsumsi rumah tangga dan pemerintah, aliran investasi, serta kinerja impresif di sektor perdagangan, perhotelan, dan bisnis kuliner.
Terkait kebijakan, Kepala Unit Implementasi Kebijakan dan Pengawasan Sistem Pembayaran BI Malang, Shomita F. Insany, menjelaskan bahwa tugas Bank Indonesia berdasarkan UU Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (P2SK) kini lebih luas.
BI tidak hanya fokus menstabilkan harga dan nilai tukar mata uang, tetapi juga dituntut untuk berkontribusi langsung dalam memacu perekonomian dan membuka lapangan kerja.
Sebagai upaya menjalankan mandat tersebut, BI mengimplementasikan bauran kebijakan (policy mix) yang meliputi sektor moneter, makroprudensial, dan sistem pengawasan pembayaran.
Di sektor moneter, wujud nyata dari kebijakan ini adalah keputusan menahan suku bunga acuan (BI-Rate) di level 5,75 persen, sebuah langkah strategis untuk menstabilkan nilai tukar Rupiah sekaligus merawat iklim investasi agar tetap memikat.














