Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi pada abad ke-21 berlangsung sangat cepat. Kehadiran kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), teknologi digital, bioteknologi, hingga berbagai inovasi di bidang pertanian, kesehatan, dan pendidikan telah membawa perubahan besar dalam kehidupan manusia.
Di tengah kemajuan tersebut, masih terdapat anggapan bahwa agama dan sains merupakan dua hal yang saling bertentangan. Sebagian orang memandang bahwa sains hanya bertumpu pada logika dan eksperimen, sedangkan agama hanya mengajarkan aspek spiritual. Padahal, pandangan tersebut tidak sejalan dengan ajaran Islam yang justru menjadikan ilmu pengetahuan sebagai bagian penting dalam kehidupan umat manusia.
Islam merupakan agama yang sangat menghargai ilmu pengetahuan. Wahyu pertama yang diterima Nabi Muhammad SAW adalah perintah untuk membaca, sebagaimana termuat dalam Surah Al-‘Alaq ayat 1–5. Perintah tersebut menjadi bukti bahwa Islam mendorong umatnya untuk terus belajar, mengkaji, dan mengembangkan ilmu pengetahuan. Membaca dalam Islam tidak hanya berarti membaca buku, tetapi juga memahami berbagai fenomena alam, kehidupan sosial, dan perkembangan teknologi sebagai tanda kebesaran Allah SWT.
Dalam sejarah peradaban Islam, banyak ilmuwan Muslim yang berhasil memberikan kontribusi besar bagi perkembangan ilmu pengetahuan dunia. Tokoh-tokoh seperti Ibnu Sina di bidang kedokteran, Al-Khawarizmi dalam matematika, serta Ibnu Al-Haytham dalam ilmu optik menunjukkan bahwa keimanan tidak pernah menjadi penghalang bagi lahirnya inovasi. Sebaliknya, keyakinan kepada Allah justru menjadi motivasi untuk terus mencari ilmu yang bermanfaat bagi kehidupan manusia.
Semangat tersebut juga tercermin dalam gerakan Muhammadiyah. Sejak didirikan oleh KH. Ahmad Dahlan, Muhammadiyah menjadikan pendidikan sebagai salah satu sarana dakwah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Melalui ribuan sekolah, madrasah, perguruan tinggi, rumah sakit, dan lembaga sosial yang tersebar di berbagai daerah, Muhammadiyah membuktikan bahwa kemajuan ilmu pengetahuan harus berjalan berdampingan dengan nilai-nilai keislaman. Pendidikan tidak hanya bertujuan menghasilkan lulusan yang cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki akhlak mulia dan kepedulian terhadap masyarakat.
Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan dengan salah satu pengurus Muhammadiyah dalam kegiatan Project Based Learning (PJBL), diperoleh pandangan bahwa Islam dan sains merupakan dua unsur yang saling melengkapi. Menurut beliau, perkembangan ilmu pengetahuan merupakan amanah yang harus dimanfaatkan untuk meningkatkan kesejahteraan umat.
Kemajuan teknologi hendaknya tidak menjauhkan manusia dari nilai-nilai agama, tetapi justru menjadi sarana untuk memperkuat keimanan serta memberikan manfaat bagi lingkungan sekitar. Pandangan tersebut sangat relevan dengan kondisi saat ini. Kemudahan akses informasi melalui internet memungkinkan siapa saja memperoleh pengetahuan dalam hitungan detik.
Namun, di sisi lain, masyarakat juga dihadapkan pada berbagai tantangan, seperti penyebaran berita palsu, penyalahgunaan media sosial, pelanggaran etika digital, hingga penggunaan teknologi untuk tindakan yang merugikan orang lain. Oleh karena itu, penguasaan teknologi harus diimbangi dengan kemampuan berpikir kritis dan landasan moral yang kuat.
Bagi mahasiswa, integrasi antara Islam dan sains memiliki makna yang sangat penting. Sebagai generasi penerus bangsa, mahasiswa dituntut tidak hanya menguasai ilmu sesuai bidangnya, tetapi juga mampu menerapkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari. Mahasiswa Agroteknologi, misalnya, tidak hanya dituntut mampu menghasilkan inovasi di bidang pertanian, tetapi juga memiliki kepedulian terhadap kelestarian lingkungan, kesejahteraan petani, serta ketahanan pangan masyarakat. Ilmu pengetahuan akan memberikan manfaat yang lebih besar apabila digunakan untuk kemaslahatan bersama.
Kemajuan teknologi pada hakikatnya hanyalah sebuah alat. Manusia tetap menjadi pihak yang menentukan apakah teknologi tersebut digunakan untuk membangun atau justru merusak kehidupan. Oleh sebab itu, pendidikan karakter berbasis nilai-nilai Islam menjadi sangat penting agar perkembangan sains tidak kehilangan arah. Ilmu tanpa akhlak dapat melahirkan penyalahgunaan kekuasaan dan teknologi, sedangkan semangat keagamaan tanpa ilmu dapat menyebabkan umat tertinggal dalam menghadapi perubahan zaman.
Islam tidak pernah mengajarkan umatnya untuk takut terhadap perkembangan ilmu pengetahuan. Sebaliknya, Islam mendorong umatnya menjadi pelopor dalam penelitian, inovasi, dan pengembangan teknologi yang memberikan manfaat bagi masyarakat. Muhammadiyah telah menunjukkan bahwa dakwah dapat diwujudkan melalui pendidikan, penelitian, pelayanan kesehatan, dan pengabdian kepada masyarakat.
Hal tersebut menjadi bukti bahwa iman dan ilmu dapat berjalan beriringan untuk menciptakan peradaban yang maju. Pada akhirnya, hubungan antara Islam dan sains bukanlah hubungan yang saling bertentangan, melainkan hubungan yang saling menguatkan. Sains memberikan kemampuan kepada manusia untuk memahami dan mengelola alam semesta, sedangkan Islam memberikan pedoman moral agar ilmu tersebut digunakan secara bertanggung jawab.
Ketika keduanya dipadukan, akan lahir generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki integritas, kepedulian sosial, dan tanggung jawab kepada Allah SWT. Inilah semangat yang perlu terus ditanamkan kepada generasi muda agar kemajuan ilmu pengetahuan benar-benar menjadi jalan menuju kemajuan peradaban dan kemaslahatan umat.
*Penulis: Moch. Bintang Brilian, Muhamad Arif Wicaksono, Ari Tri Sulistiyo, dan Marsya Indira Vritama Sari, Mahasiswa Program Studi Agroteknologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM)














