BATU, PIJARNEWS.ID – Berawal dari upaya melihat kembali limbah yang selama ini dianggap tidak bernilai, mahasiswa Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Pendidikan Profesi Guru (PPG) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengembangkan inovasi pemanfaatan kulit bawang sebagai bahan pewarna alami untuk batik jumputan. Gagasan tersebut diperkenalkan kepada masyarakat melalui kegiatan pemberdayaan Kelompok Tani Wanita (KWT) Putri Pandan Wangi di Balai Dusun Klerek, Desa Torongrejo, Kecamatan Junrejo, Kota Batu, Rabu (16/9/2026).
Inovasi ini menjadi bagian dari Proyek Kepemimpinan PPG UMM yang memberikan ruang bagi mahasiswa untuk mengidentifikasi potensi di lingkungan masyarakat, merancang gagasan, serta mengimplementasikannya dalam kegiatan yang memberikan manfaat secara langsung. Kulit bawang dipilih karena ketersediaannya cukup dekat dengan kehidupan masyarakat, khususnya di wilayah yang memiliki aktivitas pertanian bawang.
Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa memperkenalkan cara pandang bahwa bahan yang telah dianggap sebagai limbah tidak selalu berakhir sebagai sesuatu yang harus dibuang. Dengan pengolahan yang tepat, kulit bawang dapat dimanfaatkan sebagai bahan pewarna alami yang kemudian diterapkan pada kain menggunakan teknik batik jumputan.
Sebanyak 25 anggota KWT Putri Pandan Wangi terlibat dalam kegiatan tersebut. Mahasiswa tidak hanya menyampaikan informasi secara teoritis, tetapi juga mengajak peserta mengenal proses pengolahan kulit bawang secara langsung. Peserta mengikuti proses ekstraksi hingga tahap penggunaan pewarna pada kain batik jumputan.
Keterlibatan langsung peserta menjadi bagian penting dalam kegiatan karena inovasi yang diperkenalkan tidak berhenti pada penyampaian pengetahuan. Peserta memperoleh kesempatan untuk melihat dan mencoba sendiri bagaimana kulit bawang yang sebelumnya tidak dimanfaatkan dapat diolah menjadi bahan yang dapat digunakan dalam menghasilkan karya.
Aminatus Zuhriyah selaku koordinator kegiatan menjelaskan bahwa gagasan tersebut berkaitan dengan peran mahasiswa sebagai calon guru yang tidak hanya memiliki tanggung jawab dalam ruang kelas, tetapi juga dapat mengembangkan kepedulian terhadap lingkungan dan masyarakat.
“Pemberdayaan ini sebagai langkah kami sebagai calon guru untuk memanfaatkan limbah tak terpakai menjadi seni atau karya bernilai jual tinggi,” ujarnya.
Menurut Winarsih, Ketua KWT Putri Pandan Wangi, kegiatan tersebut memberikan pengalaman baru bagi anggota kelompok. Ia melihat pemanfaatan kulit bawang sebagai sesuatu yang relevan dengan kondisi lingkungan sekitar karena banyak masyarakat di wilayahnya yang beraktivitas sebagai petani bawang.
“Saya sangat senang mendapatkan ilmu baru dalam pengolahan limbah kulit bawang, sebab di daerah saya banyak petani bawang,” ungkapnya.
Pelaksanaan kegiatan sebelumnya diawali dengan koordinasi mahasiswa bersama perangkat Desa Torongrejo. Mahasiswa kemudian diarahkan untuk berkoordinasi dengan Winarsih selaku Ketua KWT Putri Pandan Wangi. Proses tersebut menjadi bagian dari tahapan mahasiswa dalam membangun komunikasi dengan masyarakat sebelum menentukan pelaksanaan kegiatan.
Bagi mahasiswa PGSD PPG UMM, proses tersebut juga menjadi pengalaman untuk mengembangkan kemampuan di luar konteks pembelajaran formal. Mahasiswa dituntut untuk memahami kondisi masyarakat, mengidentifikasi potensi yang dapat dikembangkan, menyusun kegiatan, serta berkomunikasi dengan kelompok sasaran.
Dosen pembimbing Proyek Kepemimpinan PPG UMM, Purwati, mengapresiasi proses yang telah dilakukan mahasiswa. Selama pelaksanaan proyek, mahasiswa secara aktif melakukan koordinasi dan menjalankan tahapan kegiatan bersama masyarakat.
“Saya merasa bangga melihat anak didik saya mau memberdayakan sampai sukses di tengah masyarakat. Selama bimbingan, mereka selalu berkoordinasi,” tuturnya.
Inovasi pewarna alami berbasis kulit bawang tersebut selanjutnya diarahkan untuk dikembangkan menjadi bagian dari produk batik jumputan. Pengembangan ini dilakukan oleh mahasiswa sebagai bentuk keberlanjutan dari inovasi yang telah diperkenalkan melalui kegiatan pemberdayaan.
Tidak hanya menghasilkan karya, kegiatan tersebut juga memperlihatkan bagaimana proses pembelajaran mahasiswa dapat dihubungkan dengan persoalan dan potensi yang terdapat di lingkungan sekitar. Pemanfaatan kulit bawang menjadi pewarna alami mempertemukan unsur kreativitas, kepedulian terhadap lingkungan, keterampilan, dan pengembangan potensi lokal dalam satu kegiatan.
Melalui Proyek Kepemimpinan tersebut, mahasiswa PGSD PPG UMM menunjukkan bahwa pengalaman belajar calon guru dapat berlangsung melalui interaksi langsung dengan masyarakat. Inovasi sederhana berbasis bahan yang tersedia di lingkungan sekitar dikembangkan menjadi gagasan kreatif yang dapat terus disempurnakan sebagai produk berbasis potensi lokal.














