JEMBER, PIJARNEWS.ID – Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur (PWM Jatim) meresmikan Pengurus Jamaah Tani Muhammadiyah (JATAM), Jamaah Nelayan Muhammadiyah (JALAMU) dan Asosiasi Purna Migran Muhammadiyah di Kabupaten Probolinggo, Kabupaten Lumajang, Kabupaten Bondowoso, Kabupaten Situbondo, Kabupaten Jember dan Kabupaten Banyuwangi.
Peresmian yang berlangsung pada Sabtu (21/12/2024) di Lobi Akademi Pariwisata Universitas Muhammadiyah (Unmuh) Jember itu, merupakan bagian dari pelaksanaan program prioritas MPM Pimpinan Pusat Muhammadiyah guna membentuk kelembagaan dan Asosiasi Purna Migran Muhammadiyah pada tingkat PDM Kabupaten/ Kota di Indonesia.
Dalam sambutannya, Wakil Rektor bidang Kemahasiswaan dan Alumni Unmuh Jember Dr. Sofyan Rofi., MPd.I mengapresiasi kegiatan tersebut dan berkomitmen untuk terus menjalin kerjasama dalam pengembangan dan realisasi berbagai program persyarikatan, termasuk MPM khususnya di wilayah tapal kuda.
Begitupun Ketua MPM PWM Jatim Lutfi J Kurniawan yang mengatakan bahwa pelaksanaan pembentukan kelembagaan JATAM, JALAMU dan Asosiasi Purna Migran merupakan salah satu program prioritas dari MPM PP Muhammadiyah pada periode ini.
Menurutnya, hasil muktamar sebelumnya telah mengamanatkan agar berbagai program kerja di lembaga dan majelis harus mendorong perubahan masyarakat berbasis lokalitas dan kreativitas.
Hal tersebut menuntut pengurus dan seluruh kader agar responsif terhadap berbagai isu aktual yang langsung menyentuh persoalan di level akar rumput, misalnya tentang kedaulatan pangan.
Setelah peresmian, prosesi aacara dilanjutkan dengan kegiatan pelatihan pembuatan kerupuk tulang ikan yang langsung dipandu oleh wakil Lembaga Halalan Thaiyyiban PWM Jatim Rista Anggriani, STP., MP., M.Sc.
Sementara itu, Ketua Divisi Pertanian, Nelayan dan Pekerja Migran MPM PWM Jatim Hutri Agustino menjelaskan bahwa kolaborasi antar majelis dan lembaga di lingkungan PWM Jatim menjadi sebuah keniscayaan.
Bukan hanya karena alasan rekomendasi hasil rakerwil, tetapi mengingat bahwa aktivitas pemberdayaan masyarakat yang dilakukan oleh MPM sesungguhnya menjadi bagian integral dari dakwah persyarikatan Muhammadiyah. Maka, aktivitas tersebut harus dilakukan secara berjamaah dan saling menguatkan agar mampu mencapai hasil yang maksimal.
Dari hasil sharing yang dilakukan, diketahui bahwa berbagai persoalan pada sektor komoditas pertanian dan nelayan masih cukup kompleks. Mulai dari ketersediaan bibit unggul, strategi produksi, diversifikasi hasil panen, akses pemasaran sampai dengan monopoli tengkulak.
Oleh sebab itu, aktivitas pemberdayaan masyarakat yang dilakukan oleh MPM diharapkan mampu melakukan intervensi sampai pada tahap advokasi regulasi agar lebih memberikan efek keadilan bagi kelompok sosial periferial.














