Ormas  

Peringati HAKTP, PK IMM Renaissance FISIP UMM Gelar Kajian

memperingati Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan (HAKTP), Pimpinan Komisariat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (PK IMM) Renaissance FISIP Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar kajian pada Jum'at (28/11/2025)

MALANG, PIJARNEWS.ID – Dalam rangka memperingati Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan (HAKTP), Pimpinan Komisariat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (PK IMM) Renaissance FISIP Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar kajian pada Jum’at (28/11/2025) di Komisariat IMM Renaissance.

Kajian yang dihadiri oleh puluhan kader-kader ini dipantik oleh Ketua Bidang Immawati PK IMM Renaissance Periode 2023/2024 yang juga anggota Korps Immawati PC IMM Malang Raya, Ummi Fadhilah.

banner 350x525

Dalam pemaparannya, ia menegaskan bahwa HAKTP bukan sekadar perayaan seremonial, melainkan momentum penting untuk menyuarakan penghapusan berbagai bentuk kekerasan terhadap perempuan yang masih terus terjadi.

Peringatan HAKTP sendiri berlangsung secara kampanye selama 16 hari, dan diakhiri pada 10 Desember, bertepatan dengan Hari Hak Asasi Manusia (HAM).

“Pembahasan terkait sejarah diperingatinya HAKTP masih tetap relevan sampai saat ini dan penting untuk dipelajari,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa sejarah diperingatinya HAKTP tidak dapat dilepaskan dari kisah perjuangan Mirabal Sisters di Republik Dominika. Meskipun terjadi di negara lain, spirit perlawanan mereka terhadap tirani dan kekerasan terhadap perempuan dirasakan hingga ke seluruh dunia.

“Kekerasan terhadap perempuan maupun berbasis gender masih tetap ada hingga kini. Keberpihakan IMM kepada kaum mustadh’afin, menjadikan kajian ini tetap relevan,” jelasnya.

Forum kajian ini juga meniti secara mendalam apa makna kekerasan, bentuk kekerasan, dan contoh kekerasan yang berbasis gender. Ia juga menekankan bahwa kekerasan tidak selalu terlihat dalam bentuk fisik. Ada pula kekerasan struktural dan kultural yang sering luput dari perhatian, namun memberikan dampak buruk yang tidak kalah serius.

“Karena kita sudah belajar, berarti kita tidak boleh diam ketika melihat bentuk kekerasan terjadi di lingkungan sekitar,” tegasnya.

Diakhir, ia mengajak kepada kader-kader IMM untuk terus peka dan bergerak menghadapi isu kekerasan perempuan. “Perubahan yang besar itu ada karena hal-hal kecil,” pesannya.

banner 350x525
https://pijarnews.id/wp-content/uploads/2025/02/E-Flyer-IG-Story_Penetapan-rev5.png