BOJONEGORO, PIJARNEWS.ID- Dalam rangka memperkuat citra sekolah sekaligus menjawab tantangan promosi pendidikan di era digital, Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Bojonegoro selenggarakan Workshop Branding dan Marketing Sekolah Muhammadiyah di Aula PDM Bojonegoro pada Rabu (12/2/2026).
Workshop yang diikuti Ketua dan Sekretaris Majelis Dikdasmen dan Pendidikan Non Formal (PNF) Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM), serta 128 pimpinan dan kepala sekolah Muhammadiyah se-Kabupaten Bojonegoro ini bertujuan membangun reputasi sekolah agar semakin dikenal, dipercaya, dan dipilih masyarakat.
Adapun workshop ini terselenggara berkat kerjasama tim pengabdian masyarakat Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dengan PDM kabupaten Bojonegoro.
Wakil Bupati Bojonegoro Nurul Azizah hadir dan membuka kegiatan tersebut secara resmi. Dalam sambutannya ia menegaskan komitmen pemerintah daerah terhadap pengembangan pendidikan.
“Bojonegoro sangat peduli dengan pendidikan, apalagi sekarang era digital. Digitalisasi itu penting dan wajib. Pemerintah siap memfasilitasi pelatihan-pelatihan pendukung. Di Bojonegoro tidak boleh ada anak usia sekolah yang putus sekolah,” ujarnya.
Ketua PDM Kabupaten Bojonegoro, Drs. H. Suwito, M.Si., menambahkan bahwa perubahan zaman menuntut sekolah beradaptasi. Menurutnya, mendidik anak harus selaras dengan perkembangan teknologi.
“Saat ini terdapat 63 sekolah Muhammadiyah di Bojonegoro yang perlu mulai serius menggarap branding digital,” katanya.
Materi utama workshop dosen UMM Nuruddin yang mengulas strategi branding dan positioning. Ia menekankan branding bukan sekadar kebutuhan jangka pendek.
“Sekolah Muhammadiyah tidak cukup hanya baik, tetapi juga harus dikenal, dipercaya, dan dipilih. Sekolah mau dikenal sebagai apa. Apakah unggulan, berkarakter, atau akademis. Itu harus mulai diposisikan. Media sosial sekarang tidak bisa dianggap remeh,” tuturnya.
Sementara itu, Ketua Tim Pengabdian, M. Himawan Sutanto, memaparkan pentingnya User Generated Content (UGC). Ia menjelaskan promosi modern harus memadukan pendekatan langsung (below the line) dan publikasi massal (above the line).
“Promosi tidak bisa lagi cara kuno saja. Semua guru, karyawan, bahkan siswa bisa ikut membuat konten. Tulisan, foto, atau video. Semua untuk kepentingan sekolah,” jelasnya.
Menurutnya, promosi kini bukan hanya tugas tim media, tetapi tanggung jawab bersama sebagai bentuk promosi terintegrasi. Oleh sebab itu PDM Bojonegoro pun berencana menindaklanjuti kegiatan ini dengan pelatihan lanjutan agar branding digital sekolah Muhammadiyah semakin kuat dan berkelanjutan.














