Program Desa Tangguh Bencana, Melatih Masyarakat Lakukan Mitigasi Dampak Tsunami

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melatih masyarakat melakukan mitigasi atau mengurangi dampak bencana tsunami

JAKARTA, PIJARNEWS.ID – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melatih masyarakat melakukan mitigasi atau mengurangi dampak bencana tsunami melalui program Desa Tangguh Bencana.

“Di Indonesia kita sudah punya program Desa Tangguh Bencana, kita juga punya pendanaan dari Bank Dunia dan bekerja sama dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika -BMKG- untuk peringatan dini menggunakan alat-alat yang sudah disediakan, sehingga kalau terjadi tsunami, masyarakat yang sudah dilatih bisa segera menyelamatkan dini,” ungkap Kepala BNPB Suharyanto di Jakarta, Kamis (27/3/3035).

banner 350x525

Ia mencontohkan salah satu simulasi tsunami setinggi delapan meter, di mana masyarakat memiliki waktu 80 menit untuk menyelamatkan diri.

“Berdasarkan prediksi, ini simulasi ya, latihan oleh BMKG, delapan meter itu punya waktu 80 menit untuk menyelamatkan diri. Nah, 80 menit itu yang kita latih terus,” katanya.

Menurutnya, bencana seperti gempa bumi dan tsunami masih belum bisa diprediksi secara tepat, namun, Indonesia sebagai negara yang memiliki lempeng-lempeng bumi sangat besar, ancaman seperti Megathrust atau gempa bumi dengan magnitudo di atas 8,0 di atas patahan-patahan lempeng seperti di daerah Pacitan, Jawa Timur, atau Pelabuhan Ratu, Sukabumi, Jawa Barat, bisa kapanpun terjadi.

“Kita harus terus meningkatkan kewaspadaan masyarakat, dan tentu saja secara bertahap kita bangun kesadaran masyarakat yang berada di daerah-daerah bencana karena mereka berada di daerah bahaya. Oleh karena itu, jika ada peringatan dari BMKG, mereka segera bisa menyelamatkan diri pada titik-titik yang ditentukan,” jelasnya sebagaimana dikutip Antara.

Ia juga menjelaskan, bencana seperti gempa bumi sebetulnya bukan sesuatu yang tiba-tiba terjadi, melainkan suatu kejadian yang berulang dan sudah pernah terjadi beberapa tahun sebelumnya.

“Misalnya seperti tsunami Aceh, apakah itu hanya terjadi di 2004? Enggak, karena kalau kita lihat ke belakang, itu sebelumnya sudah pernah terjadi. Gempa bumi dan tsunami di Palu, Sulawesi Tengah itu 40-50 tahun sebelumnya juga pernah terjadi, nah, kadang-kadang masyarakat ketika sudah berganti generasi itu lupa, sehingga harus kita ingatkan terus-menerus,” paparnya.

banner 350x525
https://pijarnews.id/wp-content/uploads/2025/02/E-Flyer-IG-Story_Penetapan-rev5.png