BANYUWANGI, PIJARNEWS.ID – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Banyuwangi, Jawa Timur, terus meningkatkan sinergi dengan Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Jatim guna mewujudkan pembangunan daerah yang bermutu, mengedepankan prinsip keberlanjutan, serta tetap menjunjung tinggi kearifan lokal.
Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, menegaskan bahwa pihaknya berkomitmen untuk tidak memusatkan pembangunan pada wujud fisik semata. Pemkab juga sangat memprioritaskan aspek kenyamanan warga, kelestarian lingkungan, dan ciri khas wilayah.
“Arsitektur tidak hanya soal kemegahan, tetapi harus berpihak kepada masyarakat. Dengan kolaborasi bersama IAI kami ingin terus memastikan ruang publik, taman kota hingga tata ruang wilayah melibatkan arsitek agar pembangunan lebih nyaman, berkelanjutan dan mensejahterakan masyarakat,” ujarnya di Banyuwangi, Sabtu (12/9/2026).
Ia juga menjelaskan bahwa penerapan konsep pembangunan hijau di wilayahnya sudah berjalan lebih dari 14 tahun, di mana perancangan berbagai fasilitas umum selalu menggandeng peran arsitek.
“Kami ingin pembangunan daerah tetap berkarakter dan tidak kehilangan jati diri, namun pada saat yang sama memenuhi standar kualitas dan keberlanjutan,” katanya sebagaimana dikutip Antara.
Di sisi lain, Ketua IAI Jawa Timur, Fafan Tri Afandy, menilai kerja sama ini sebagai peluang emas untuk memperkokoh ekosistem arsitektur sekaligus mendongkrak standar pembangunan di wilayah Banyuwangi.
“IAI bersama Pemkab Banyuwangi telah lama menjalin kolaborasi yang cukup intens, kami melihat loncatan perkembangan bidang arsitektur yang cukup pesat di Banyuwangi hingga menjadikannya barometer arsitektur di Indonesia, khususnya di wilayah timur,” katanya.
Kemajuan tersebut merupakan buah dari keteguhan Banyuwangi dalam merancang arsitektur tata kota yang menonjolkan identitas lokal serta nilai-nilai peduli lingkungan. Salah satu bukti nyata keberhasilan ini adalah diraihnya penghargaan bergengsi Aga Khan Award for Architecture oleh Bandara Internasional Banyuwangi.
“Dari awal hanya terdapat tiga hingga empat arsitek, kini Banyuwangi memiliki 10-16 arsitek te-registrasi, 33 konsultan perencana, serta sekitar 80 sarjana arsitektur yang kembali ke daerah,” ujarnya.














