CIREBON, PIJARNEWS.ID – Tantangan dan permasalahan masih saja menghantui Pekerja Migran Indonesia (PMai). Sebut saja minimnya perlindungan, adanya kekerasan dan penyiksaan hingga menimbulkan korban jiwa, ancaman hukuman penjara sampai hukuman mati, termasuk juga kesejahteraan PMI beserta keluarganya.
Menyikapi fenomena tersebut, Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) Pimpinan Pusat Muhammadiyah kembali menyelenggarakan Sekolah Kader Pemberdayaan Masyarakat (SEKAM) seri Advokasi. SEKAM Advokasi kali ini dilaksanakan di Universitas Muhammadiyah Cirebon dan dibuka secara resmi pada Jumat kemarin (8/12/2023).
M. Fajrus Shodiq selaku Kepala SEKAM MPM Advokasi menyampaikan tujuan dari sekolah ini adalah upaya MPM menjawab tantangan PMI ke depan agar dapat lebih berdaya dan sejahtera tanpa penyelewengan. “Kita mencoba membangun ekosistem baru pada kegiatan pemberdayan di sektor buruh migran,” ujar Shodiq.
SEKAM Advokasi yang berlangsung selama 3 hari ini dihadiri oleh utusan MPM Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) dari berbagai provinsi dan beberapa kalangan akademisi dari Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM). Shodiq menambahkan utusan-utusan ini nantinya dapat menjadi aktor-aktor pemberdayaan PMI di daerah-daerahnya masing-masing.
Wakil Ketua MPM PP Muhammadiyah, Risman Muchtar menjelaskan bahwa dakwah pemberdayaan harus bisa menjangkau secara luas dan menjadi atensi bersama, terutama pada permasalahan buruh migran. “Kita harus memiliki atensi terhadap keberlanjutan pemberdayaan tersebut salah satunya melalui upaya-upaya advokasi ini,” ungkap Risman.
Dalam kesempatan yang sama, Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Barat Ahmad Dahlan juga menyampaikan terkait pentingnya meneguhkan dakwah pemberdayaan secara inklusif. “Pemberdayaan harus menjadi identitas dan ciri khas kita agar kita tidak ekslusif dan tetap eksis dalam dakwah,” tutur Dahlan sebagaimana dikutip oleh Suara Muhammadiyah.
Dahlan juga menyampaikan bahwa dakwah harus siap dan harus mempersiapkan regenerasi salah satunya melalui dakwah pemberdayaan. “Melalui SEKAM ini menjadi sarana dalam mempersiapkan pendakwah dalam hal dakwah pemberdayaan kedepan,” tambah Dahlan. (msqn)














