BANYUWANGI, PIJARNEWS.ID – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Banyuwangi, Jawa Timur, terus memperluas jangkauan layanan pengelolaan sampah sirkular yang ramah lingkungan.
Melalui inisiatif “Program Banyuwangi Hijau” yang telah digulirkan sejak tahun 2023, puluhan ribu rumah tangga dari 73 desa kini telah terlayani, salah satunya berkat pendirian fasilitas Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R) di berbagai titik strategis. Mengomentari tren positif ini, Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani menyampaikan apresiasinya.
“Capaian tersebut menunjukkan terus meningkatnya partisipasi masyarakat dalam mendukung pengelolaan sampah berbasis sumber serta penguatan sistem layanan persampahan terpadu di tingkat desa dan kawasan,” ujar Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani, di Banyuwangi, Rabu (13/5/2026).
Ia memaparkan bahwa hingga Mei 2026, Program Banyuwangi Hijau telah sukses melayani sekitar 23.410 rumah tangga yang merepresentasikan kurang lebih 500.000 jiwa di 73 desa. Sebagai salah satu ujung tombaknya, TPS3R Balak di Kecamatan Songgon bertindak sebagai stasiun utama pengolahan.
Fasilitas yang digerakkan oleh 91 tenaga kerja ini tercatat telah menampung lebih dari 14.145 ton sampah sejak pertama kali beroperasi, dengan rincian pengolahan mencapai 652 ton sampah anorganik dan 455 ton sampah organik.
Lebih lanjut, ia mengimbau seluruh elemen desa untuk terus menyokong program berkelanjutan ini. Ia berharap praktik lama seperti membakar sampah atau membuangnya ke sungai dapat sepenuhnya digantikan dengan sistem pengumpulan, pemilahan, dan pengangkutan menuju TPS3R oleh petugas.
“Terima kasih untuk dukungan warga atas program ini, dan ini akan mengurangi volume sampah di TPA sekaligus mengurangi sampah laut,” katanya sebagaimana dikutip Antara.
Pada kesempatan yang sama, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Banyuwangi, Dwi Handayani, menegaskan bahwa pencapaian gemilang ini tidak terlepas dari komitmen aktif jajaran aparatur desa.
“Sebanyak 73 desa juga telah bekerja sama melalui penandatanganan PKS, semua desa tersebut juga telah membentuk lembaga operator desa untuk mendukung layanan persampahan,” katanya.
Keseriusan tersebut juga dibuktikan melalui sisi pendanaan, di mana desa-desa yang terlibat telah menganggarkan alokasi khusus dari Dana Desa untuk sektor persampahan. Sepanjang periode 2023-2026, total dana yang digelontorkan menyentuh angka Rp3,97 miliar.
Tak hanya bertumpu pada infrastruktur dan regulasi, ia juga menyoroti pentingnya transformasi perilaku warga sebagai fondasi utama di balik kesuksesan Program Banyuwangi Hijau.
“Perubahan ini dilakukan melalui kegiatan edukasi yang telah diikuti 46.555 orang hingga berbagai kegiatan pelatihan fasilitator, edukator desa, pegiat perubahan perilaku dan kampanye komunitas,” katanya.














