Peran Islam dalam Mendorong Kemajuan Sains dan Teknologi*

Kemajuan teknologi

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi pada era modern membawa perubahan besar dalam kehidupan manusia. Kemajuan di bidang kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), bioteknologi, hingga teknologi digital telah memberikan berbagai kemudahan sekaligus menghadirkan tantangan moral dan etika.

Dalam konteks ini, Islam tidak memandang sains sebagai sesuatu yang bertentangan dengan agama, melainkan sebagai sarana untuk memahami tanda-tanda kebesaran Allah SWT di alam semesta. Pandangan tersebut menjadi salah satu landasan utama gerakan Muhammadiyah dalam membangun masyarakat yang maju, berilmu, dan berakhlak.

banner 350x525

Muhammadiyah sejak awal berdirinya telah menempatkan ilmu pengetahuan sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari ajaran Islam. Pendiri Muhammadiyah, KH. Ahmad Dahlan, menekankan pentingnya pendidikan sebagai jalan untuk membebaskan umat dari kebodohan dan keterbelakangan. Baginya, pemahaman agama harus berjalan beriringan dengan penguasaan ilmu pengetahuan modern. Oleh karena itu, Muhammadiyah mendirikan berbagai sekolah, perguruan tinggi, rumah sakit, dan lembaga penelitian sebagai bentuk nyata dakwah yang berorientasi pada kemajuan peradaban.

Dalam perspektif Muhammadiyah, sains merupakan hasil ikhtiar manusia dalam mengkaji ciptaan Allah melalui metode ilmiah. Al-Qur’an berulang kali mengajak manusia untuk berpikir (tafakkur), mengamati (nazhar), dan menggunakan akal (‘aql) sebagai sarana memperoleh pengetahuan. Ayat pertama yang diturunkan, yaitu perintah membaca (Iqra’), menjadi simbol bahwa Islam adalah agama yang menjunjung tinggi ilmu pengetahuan. Dengan demikian, penelitian ilmiah bukan sekadar aktivitas akademik, tetapi juga merupakan bagian dari ibadah apabila dilakukan untuk kemaslahatan umat.

Muhammadiyah juga menolak dikotomi antara ilmu agama dan ilmu umum. Seluruh ilmu pada hakikatnya berasal dari Allah SWT dan harus dimanfaatkan untuk mewujudkan kesejahteraan manusia. Seorang ilmuwan Muslim tidak hanya dituntut menghasilkan inovasi, tetapi juga memastikan bahwa hasil penelitiannya membawa manfaat, menjunjung nilai kemanusiaan, serta tidak merusak lingkungan maupun kehidupan sosial. Oleh sebab itu, pengembangan sains harus selalu disertai dengan etika dan nilai-nilai Islam.

Di tengah pesatnya perkembangan teknologi, Muhammadiyah mendorong umat Islam untuk menjadi pelaku, bukan sekadar pengguna teknologi. Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PTMA) terus mengembangkan riset di berbagai bidang, mulai dari kesehatan, pertanian, teknik, ekonomi, hingga teknologi informasi. Upaya tersebut menunjukkan bahwa Muhammadiyah ingin melahirkan generasi Muslim yang unggul secara intelektual, memiliki integritas moral, dan mampu bersaing di tingkat global tanpa kehilangan identitas keislamannya.

Namun demikian, perkembangan sains juga menghadirkan berbagai persoalan etis, seperti penyalahgunaan kecerdasan buatan, rekayasa genetika, eksploitasi sumber daya alam, serta penyebaran informasi yang tidak bertanggung jawab. Muhammadiyah memandang bahwa ilmu pengetahuan harus diarahkan pada prinsip rahmatan lil ‘alamin, yaitu memberikan manfaat bagi seluruh makhluk. Sains tidak boleh menjadi alat untuk menciptakan kerusakan, diskriminasi, atau ketidakadilan, melainkan harus menjadi solusi atas berbagai persoalan kemanusiaan.

Pada akhirnya, hubungan antara Islam dan sains dalam perspektif Muhammadiyah bersifat harmonis dan saling melengkapi. Agama memberikan arah moral dan spiritual, sedangkan sains menyediakan cara untuk memahami serta mengelola kehidupan secara rasional. Integrasi keduanya menjadi fondasi penting dalam membangun peradaban Islam yang maju, berkeadilan, dan berkemajuan.

Melalui semangat Islam Berkemajuan, Muhammadiyah menunjukkan bahwa kemajuan ilmu pengetahuan tidak akan menjauhkan manusia dari Tuhan, justru semakin menguatkan kesadaran akan kebesaran-Nya serta tanggung jawab untuk memakmurkan bumi demi kemaslahatan seluruh umat manusia.

*Penulis: Dwi Rahmad Haqie Sulistyo, Dino Rizqi Pratama dan Mohammad Labib Assyaddad, Mahasiswa Prodi Agroteknologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM)

banner 350x525
https://pijarnews.id/wp-content/uploads/2025/02/E-Flyer-IG-Story_Penetapan-rev5.png