Jakarta itu keras. Namun bagaimanakah “keras” itu didefinisikan? Mungkin ungkapan tersebut awalnya terdengar dari rekan ataupun orang lain saat mendeskripsikan bagaimana menantangnya hidup di kota metropolitan tersebut. Sebagaimana kebanyakan diketahui, Jakarta memanglah kota terbesar di Indonesia dan merupakan Ibu Kota Negara Republik Indonesia, setidaknya sampai detik ini sebelum nanti pindah ke Ibukota Nusantara (IKN).
Saya sendiri tertanya-tanya makna dari “keras” itu. Karena belum pernah merasakan hidup di Jakarta dalam jangka waktu yang lama ataupun sebagai tempat tinggal untuk mencari rezeki, pertanyaan tentang makna “Jakarta itu keras” itu terus muncul dalam benak saya. Bagaimanakah istilah itu ada dan mengapa ia ada? Kenapa hanya Jakarta?
Pada 28 Mei 2025, di malam hari setelah Isya, saya menyempatkan diri untuk berjalan di sekeliling hotel yang terletak di wilayah Kemayoran, Jakarta Pusat. Rasanya ingin untuk mencicipi Siomay yang letaknya tidak begitu jauh dari penginapan. Siomay yang dijual di laluan pejalan kaki memang beda. Rindu rasanya mencicipi usai sekian lama tidak menyantapnya setelah merantau lama di Pulau Pinang, Malaysia.
Seperti biasanya yang selalu saya lakukan untuk menyempatkan diri berkomunikasi, sambil makan, banyak pertanyaan yang saya sampaikan kepada penjual Siomay itu tentang apa yang ada di benak pikiran saya tentang Jakarta. Amat gembira rasanya setiap kali dapat mendengar cerita, kisah, bahkan keluh-kesah orang-orang yang sudi berinteraksi bersama. Sebuah kebiasaan dalam diri seseorang yang berjiwa ingin tahu hal-hal sosial di persekitaran.
Sambil menjamu selera, tertarik dengan apa yang diucapkan oleh penjual Siomay itu, “di kampung nggak bisa pegang uang tapi perut kenyang, di Jakarta bisa pegang uang tapi perut nggak kenyang.” Bermula dari situ lah saya coba untuk mendalaminya lagi. Saking tertariknya, dengan menggunakan strategi penelitian abduktif sebagaimana dalam salah satu kaedah penelitian kualitatif yang mengedepankan perspektif ‘insiders’ ataupun aktor sosial itu sendiri, saya coba menggali maksud dari ucapan tersebut melalui perspektifnya beliau sendiri selaku yang mengalami fenomena tersebut.
Di kampung mudah untuk mencari makan tanpa perlu uang ataupun dengan biaya yang lebih murah. Makan buah dengan memetik, memancing ikan, menanam sayur dan buah di kebun, cukup untuk sekadar mengenyangkan perut. Namun tidak dapat dipungkiri bahwa tidaklah semudah mencari makan untuk mencari uang di kampung. Sebaliknya, di Jakarta yang merupakan metropolitan, mencari uang jauh lebih mudah dibandingkan di kampung.
Ada banyak cara untuk mendapatkan uang di kota besar. Bahkan, seseorang yang bekerja sebagai petugas keamanan ‘security’ di sebuah perusahaan masih bisa mengirimkan sebagian pendapatannya ke kampung. Namun, hampir semua aspek kehidupan hariannya memerlukan uang untuk memenuhi kebutuhan. Bahkan, kebutuhan pokok seperti makanan, “Di Jakarta semua membutuhkan uang.”
Jakarta itu keras, “keras dengan ujian mental, psikologi, serta jiwa diri masing-masing.” Bagaikan godaan yang berlimpah, begitulah Jakarta terlihatnya, sebuah kota besar, mantan Ibu Kota Negara, merupakan tempat segala-galanya untuk mencari uang dan menghabiskan uang di pusat perbelanjaan (mall), minum di kafe, dan lain-lain lagi. Apakah untuk memenuhi kebutuhan, atau keinginan?
Kian waktu seorang manusia mudah kebingungan, kalah terhadap diri sendiri. Disebabkan diri seseorang yang gagal memahami dan percaya bahwa keinginan adalah bagaikan kebutuhan, maka lenyaplah berapa banyak uang pun yang diperolehinya di Jakarta, maka tewaslah diri seseorang itu dengan “Jakarta yang keras.” Bangga, hidupnya seorang pria bekas petugas keselamatan dan akhirnya penjual Siomay di Jakarta yang kini sudah melebihi 10 tahun jelas terbukti sudah mengkhatamkan Jakarta, “kalau Jakarta sekarang sudah saya naungi.”
Bukan Jakarta yang keras, melainkan lingkungan sekitarnya yang menarik perhatian dan mendorong seseorang untuk beradaptasi, terkadang dengan gaya hidup yang berlebihan. Sebagaimana ilmuwan sosial meyakini bahwa tidak ada ilmu yang absolut, kali ini saya ingin berbagi sebuah teori Jakarta keras. Teori ini lahir dari pengalaman seorang perantau asal Kota Malang, Jawa Timur, yang kini berprofesi sebagai penjual Siomay di Kemayoran sejak pasca Covid-19. Sebelumnya, ia telah tinggal di Jakarta sejak tahun 2009 sebagai petugas keamanan di salah satu perusahaan sebelum akhirnya dipensiunkan lebih awal.
*Penulis: Hanif Abdurahman Siswanto, Mahasiswa Pascasarjana di Centre for Policy Research, Universiti Sains Malaysia














