Keunggulan Pendekatan Deep Learning dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam bagi Peserta Didik

Penulis : Fahma Nur Ahsani (Alumni S2 PAI Universitas Muhammadiyah Ponorogo)

Istilah deep learning menjadi sangat populer sejak disampaikan oleh Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah RI., Prof. Dr. Abdul Mu’ti. Sejak itu juga bermunculan spekulasi di kalangan masyarakat yang manyatakan bahwa deep learning merupakan kurikulum baru, hasil karya cipta menteri baru, masyarakat trauma dengan ganti menteri ganti kurikulum, benarkan demikian?.

Apa sebenarnya deep learning, bahwa deep learning bukan kurikulum baru sebagaimana dipersepsikan oleh masyarakat. Namun deep learning merupakan pendekatan dalam proses pembelajaran agar dihasilkan anak yang cerdas dan berkarakter, ketika seseorang ingin mengetahui sesuati, mendalami sesuatu tidak hanya sekedar tahu kulitnya, tetapi tahu isi, fungsi manfaat dari yang dipelajari, juga dapat dipahami hubungannya dengan ilmu lain atau pun kehidupan, sehingga apa yang dipelajari tidak lepas dari kontekstualisasi yang akan melahirkan inspirasi dan produk baru ilmu pengetahuan, teknologi, seni atau sejenisnya yang dapat bermanfaat bagi peningkatan keilmuan, kesejahteraan manusia.
Deep learning merupakan pendekatan yang menekankan pada penciptaan suasana belajar dan proses pembelajaran berkesadaran (mindful)., bermakna (meaningful), dan menggembirakan (joyful) melalui olah pikir (intelektual), olah hati (etika), olah rasa (estetika), dan olah raga (kinestetik) secara holistik dan terpadu.

banner 350x525

Mindfull (berkesadaran) bahwa pembelajaran harus melatih peserta didik untuk mampu menjawab pertanyaan siapa, mengapa, bagaimana, berapa, dimana. Sedangkan meaningful arahnya bagaimana proses pembelajaran itu peserta didik memahami dan mampu mengambil manfaat serta mengerti kegunaan dari ilmu yang dipelajari dalam kehidupan sehari-hari. pada aspek joyful learning berarti pembelajaran harus menyenangkan, menggembirakan, siswa aktif secara fisik, pikiran dan perasaan sehingga belajar tidak penat, tidak tertekan, tidak menakutkan, tetapi belajar itu berlatih untuk mencoba, mehamai, dan menggunakan sesuatu yang dipelajari dengan enjoy, dengan selingan humor, ice breaking, atau berbagai kombinasi pembelajaran dikelas, diluar kelas, inovatif dan kreatif sehingga pembelajaran itu penuh warna dan penuh pengalaman yang baik, menantang,, yang menjadikan siswa termotivasi untuk belajar.

Siswa diharapkan melalui pembelajaran yang berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan, maka akan dihasilkan lulusan yang mempunyai delapan profil yang istimewa, yaitu memiliki:
1) Keimanan dan Ketakwaan
terhadap Allah Swt yaitu Individu yang memiliki keyakinan teguh akan keberadaan Allahserta menghayati, mendalami dan mengamalkan nilai-nilai spiritual dalam kehidupan sehari-hari.
2) Kewargaan yaitu individu yang memiliki rasa cinta tanah air, mentaati aturan dan norma sosial dalam kehidupan bermasyarakat, memiliki kepedulian, tanggungjawab sosial, serta berkomitmen untuk menyelesaikan masalah nyata yang terkait keberlanjutan manusia dan lingkungan.
3) Penalaran Kritis, yaitu individu yang mampu berpikir secara logis, analitis, dan reflektif dalam memahami, mengevaluasi, serta memproses informasi untuk menyelesaikan masalah.
4) Kreativitas yaitu individu yang mampu berpikir secara inovatif, fleksibel, dan orisinal dalam mengolah ide atau informasi untuk menciptakan solusi yang unik dan bermanfaat.
5) Kolaborasi yaitu individu yang mampu bekerja sama secara efektif dengan orang lain secara gotong royong untuk mencapai tujuan bersama melalui pembagian peran dan tanggung jawab yang jelas.
6) Kemandirian yaitu individu yang mampu bertanggung jawab atas proses dan hasil belajarnya sendiri dengan menunjukkan kemampuan untuk mengambil inisiatif, mengatasi hambatan, dan menyelesaikan tugas secara tepat tanpa bergantung pada orang lain.
7) Kesehatan yaitu individu yang memiliki fisik yang prima, bugar, kebiasaan hidup sehat, dan kemampuan untuk menjaga keseimbangan antara aktivitas fisik, mental, dan sosial.
8) Komunikasi yaitu individu yang memiliki kemampuan komunikasi intrapribadi untuk melakukan refleksi dan antarpribadi untuk menyampaikan ide, gagasan, dan informasi baik lisan maupun tulisan serta berinteraksi secara efektif dalam berbagai situasi.

Para pendidik bertugas memberikan inspriasi, pencerahan terhadap peserta didik sehingga siswa merasa puas mengenai pemahaman, dan penjelasan pendidik. Peserta didik mampu mengambil inspirasi dan bertindak secara kreatif, produktif dalam mengatasi berbagai persoalan hidup.

*Penulis : Fahma Nur Ahsani
(Alumni S2 PAI Universitas Muhammadiyah Ponorogo)

banner 350x525
https://pijarnews.id/wp-content/uploads/2025/02/E-Flyer-IG-Story_Penetapan-rev5.png