Menunda Hari Ini, Cemas Esok: Dampak Prokrastinasi terhadap Kesehatan Mental Mahasiswa*

Fattiyah Aulia Romadhani (Mahasiswi Universitas Muhammadiyah Lamongan)

Di tengah tuntutan akademik yang semakin tinggi, Mahasiswa kerap dihadapkan pada berbagai tugas, mulai laporan, presentasi, ujian, hingga aktivitas sosial atau organisasi. Dalam situasi ini, tidak sedikit mahasiswa yang memilih untuk menunda pekerjaan mereka hingga mendekati batas waktu. Kebiasaan ini dikenal sebagai prokrastinasi, sebuah perilaku yang tampak sepele namun memiliki dampak serius terhadap kesehatan mental mahasiswa.

Prokrastinasi atau sering disebut menunda pekerjaan atau tugas bukan sekedar persoalan manajemen waktu yang buruk. Lebih dari itu, perilaku ini sering kali berkaitan dengan faktor psikologis seperti rasa takut gagal, perfeksionisme, hingga kurangnya motivasi. Mahasiswa yang cenderung menunda biasanya merasa tugas yang dihadapi terlalu berat atau tidak menarik, sehingga memilih melakukan aktivitas lain yang lebih menyenangkan sebagai bentuk pelarian sementara.

banner 350x525

Namun penundaan tersebut justru menciptakan siklus yang merugikan. Semakin lama tugas ditunda, semakin besar tekanan yang dirasakan karena waktu yang tersedia semakin terbatas. Akibatnya, mahasiswa harus bekerja dalam kondisi terburu-buru, yang pada akhirnya memicu stres, kecemasan, bahkan kelelahan mental. Perasaan bersalah juga sering muncul karena menyadari bahwa waktu terbuang tanpa hasil yang produktif. Dampak prokrastinasi terhadap Kesehatan mental tidak bisa dianggap remeh. Dalam jangka pendek, mahasiswa mungkin mengalami kecemasan menjelang deadline. Namun dalam jangka panjang, kebiasaan ini dapat menurunkan kepercayaan diri, meningkatkan risiko burnout, serta memicu gangguan seperti stres kronis dan depresi. Selain itu, kualitas hasil kerja juga cenderung menurun, yang pada akhirnya memperburuk kondisi psikologis mahasiswa.

Menariknya, banyak mahasiswa sebenarnya menyadari bahwa kebiasaan menunda tidak memberikan manfaat. Namun, menghentikan perilaku ini bukan hal yang mudah karena memerlukan kesadaran diri dan strategi yang tepat. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah memecah tugas yang besar menjadi bagian-bagian kecil agar terasa lebih ringan dan tidak menimbulkan rasa berat saat memulai. Selain itu, menetapkan prioritas dan menyusun jadwal tugas juga menjadi langkah penting dalam mengurangi kebiasaan menunda. Serta pengelolaan waktu yang terstruktur dapat membantu mahasiswa lebih fokus dan terarah dalam menyelesaikan tugas.

Lingkungan belajar yang kondusif serta kemampuan mengelola ekspektasi diri juga berperan besar dalam mengatasi prokrastinasi, terutama agar tidak terjebak dalam perfeksionisme yang justru menghambat proses. Pada akhirnya, Prokrastinasi merupakan kebiasaan yang dapat diubah melalui kemauan dan konsistensi. Menyelesaikan tugas tepat waktu tidak hanya meningkatkan produktivitas, tetapi juga memberikan ketenangan pikiran. Menunda hari ini mungkin terasa nyaman, tetapi kecemasan di hari esok adalah konsekuensi yang harus dihadapi. Oleh karena itu, langkah kecil untuk melawan prokrastinasi sejak sekarang dapat menjadi investasi penting bagi kesehatan mental dan keberhasilan akademik di masa depan.

*) Oleh : Fattiyah Aulia Romadhani (Mahasiswi Universitas Muhammadiyah Lamongan)

banner 350x525
https://pijarnews.id/wp-content/uploads/2025/02/E-Flyer-IG-Story_Penetapan-rev5.png